<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308</id><updated>2011-08-24T21:12:44.666-07:00</updated><category term='edukasi'/><category term='berita'/><category term='opini'/><category term='info'/><category term='artikel'/><category term='afirmasi'/><title type='text'>Awang Darmawan Site</title><subtitle type='html'>Jalani Hidup, Mengikat Makna..</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-3992322686527479930</id><published>2011-02-14T12:24:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T12:24:52.196-08:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional Bareng Pak Menteri</title><content type='html'>Meskipun mendapatkan penolakan dari berbagai pihak, Kementerian Pendidikan Nasional kembali bersikeras akan melaksanakan Ujian Nasional. Di Harian Tribun Timur, Edisi 1 Januari 2011 yang lalu diberitakan Pemerintah tetap akan melaksanakan Ujian Nasional pada bulan Mei mendatang dengan format yang berbeda. Tak ada lagi Ujian Ulangan bagi siswa yang tidak lulus. Bagi yang tidak lulus, akan diberikan pilihan yakni mengikuti ujian paket C atau menunggu hingga ujian nasional tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita ini tentunya merupakan kado awal tahun yang pahit dari pemerintah buat pelaku dunia pendidikan di Indonesia terutama pelajar yang kembali akan dihantui oleh UN. Hajatan akbar ini pastinya akan kembali menjadi momok paling menakutkan yang akan menghadirkan frustasi sosial mahaakbar, apatahlagi pemerintah tidak akan memberi ampun (baca : ujian ulangan) bagi mereka yang tak bisa memenuhi standar nilai yang ditentukan. Negara kembali hadir sebagai lembaga yang abai terhadap suara rakyat, guru dan pelajar yang menyatakan bahwa ujian nasional tidak sesuai dengan UU Sisdiknas, UU Guru dan prinsip paedagogis. Negara tak lagi menjadi nation yang melindungi hak-hak sipil warga negaranya dan kemudian berubah menjadi alat yang memonopoli kekerasan atas rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hentikan Ujian Nasional!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menganalisa lebih jauh, tak ada lagi alasan bagi pemerintah untuk kembali menggelar Ujian Nasional. Secara hukum, UN telah dinyatakan inskonstitusional dan ilegal oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 21 Mei 2007 yang memutuskan bahwa Presiden, Wapres, Menteri Pendidikan Nasional dan Ketua BSNP, lalai memberikan pemenuhan dan perlindungan HAM terhadap warga negara yang menjadi korban ujian nasional. Hal ini kemudian dipertegas lagi oleh putusan Mahkamah Agung yang melarang pelaksanaan ujian nasional. Sehingga pemerintah seharusnya mematuhi putusan hukum yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dari perspektif tujuan dilaksanakannya ujian nasional yang katanya demi pemetaan dan perbaikan mutu pendidikan di negeri ini. Pemerintah hampir dikatakan tak pernah melakukan evaluasi terhadap hasil ujian nasional apalagi melakukan pemetaan dan perbaikan mutu. Masih jelas di benak penulis, ketika tahun lalu Menteri Pendidikan Nasional, Muh. Nuh berjanji di Makassar bahwa akan melakukan evaluasi, pemetaan dan perbaikan terhadap hasil ujian nasional yang baru saja dilaksanakan saat itu. Namun hingga saat dimana UN kembali akan digelar, belum ada upaya kongkrit dari pemerintah terhadap sekolah-sekolah yang lemah dalam pelajaran yang diujikan. Belum lagi upaya perbaikan dan pemerataan pendidikan yang belum juga dilakukan. Jika memang bertujuan memetakan mutu pendidikan, pemerintah mestinya memperbaiki dan meningkatkan akses, proses, biaya dan sarana pendidikan demi memperbaiki mutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi komitmen pengembangan mutu pendidikan lewat anggaran belanja sebesar 20 persen pun belum terwujud dalam aksi nyata. Tercatat 55 persen gedung sekolah rusak, 25 persen diantaranya rusak berat. Jadi hanya 45 persen saja gedung sekolah yang dikategorikan baik. Apakah pemerintah akan terus menerus menutup mata dengan realitas ini? Dan kemudian bersikap apatis, tak mau peduli. Pemerintah sudah seharusnya sadar bahwa masih banyak di negeri ini, gedung sekolah yang berantakan dan dalam kondisi memprihatinkan. Atap sekolah yang rontok, dinding-dinding yang bolong, meja kursi reot dan berbagai sarana yang jauh dari standar minimal pelayanan pendidikan masih menjadi sebuah ironi di negara yang lebih dari setengah abad merdeka ini. Situasi tersebut hampir merata di seluruh pelosok negara. Banyak anak di negeri ini yang mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam situasi yang mengenaskan. Sebagaimana yang dialami siswa anak petani miskin di Desa Pulau Nyiur, kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan yang belajar dalam satu lokasi yang dibagi menjadi tiga ruang dimana salah satunya untuk siswa tiga kelas. Tidak lulus ujian nasional atau di bawah standar tentunya bukan pilihan anak-anak itu sendiri. Mereka tidak bisa memilih situasi yang lebih baik untuk fasilitas dan layanan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah adil menuntut hasil yang standar jika ruang kelas, guru dan fasilitas pembelajaran sebagai bagian dari proses pendidikan belum standar?. Penulis sepakat dengan para aktivis pendidikan yang menilai bahwa ujian nasional seperti pola berpikir tengkulak. Pemerintah hanya ingin memetik hasil dengan jalan pintas tanpa peduli proses untuk mendapatkan hasil. Padahal, masih sangat banyak anak yang kurang atau bahkan tidak memiliki akses dalam menyiapkan diri menghadapi ujian nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard Pring (1995) menyebutkan bahwa terlalu banyak anak kita telah diperlakukan sebagai pihak yang tidak penting karena mereka tidak dapat berhasil di dunia akademis. Anak-anak kita-yang tidak lulus UN dianggap tidak mampu memasuki percakapan intelektual yang didefinisikan orang-orang yang memiliki posisi dalam kendali akademis. Para guru pun merasa pahit ketika melihat standar didefinisikan seluruhnya dari segi kerangka keunggulan akademis (kognitif) padahal para guru mengetahui bahwa ada banyak aspek yang dibutuhkan untuk membentuk pribadi seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau sudah seperti ini, UN tak lagi menjadi sebuah alat untuk melakukan pemetaan dan perbaikan mutu pendidikan. UN secara tidak langsung hanya menjadi alat pembodohan dan penindasan sistemik. Anak didik di drill untuk menyelesaikan soal pilihan ganda yang berakibat pada pembentukan karakter siswa yang senang berspekulasi. Maka, jangan heran jika ada siswa yang pintar dan baik namun tidak lulus sementara siswa yang malas dan sering tidak masuk sekolah lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola evaluasi seperti ini tentunya hanya akan melahirkan anak didik yang cerdas secara kognitif namun lemah secara afektif, psikomotorik maupun spiritual. Hal inilah yang mungkin menjadi alasan mengapa banyak lulusan lembaga pendidikan kita hanya menjadi pengangguran karena tak memiliki skill dan soft skill (afektif) yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Penulis bahkan khawatir jika nantinya dunia pendidikan kita hanya akan melahirkan “Gayus Tambunan” baru. Lulusan-lulusan yang tidak memiliki integritas dan karakter yang kuat sehingga sangat mudah diperbudak oleh permainan politik dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan standarisasi nilai kognitif yang harus dipenuhi. Tak jarang di beberapa sekolah tiap tahunnya membentuk “tim sukses UN” agar anak didik sukses memenuhi standarisasi yang ditentukan. Seluruh komponen sekolah menguras tenaga semaksimal mungkin agar anak didik dapat lulus 100%. Karena selain demi keberhasilan pengajaran, hal ini juga demi sebuah prestise sekolah. Mulai dari les tambahan, kursus privat hingga tak jarang ada juga yang melakukan kecurangan. Seperti yang diberitakan di berbagai media tentang dilaksanakannya ujian nasional ulangan menyusul adanya penemuan tindak kecurangan (kebocoran soal) di beberapa daerah tahun lalu. Selain itu, dengan format UN yang baru dilansir oleh Kemendiknas dinilai hanya akan memberikan ruang yang lebih bagi sekolah untuk melakukan mark-up nilai, memberi “bekal” nilai gila-gilaan demi kelulusan siswa. Sehingga tak jarang nilai hasil UN tidak sesuai dengan kemampuan siswa. Penulis pernah menemukan seorang guru yang mengeluhkan siswanya yang susah menerima pelajaran padahal nilai ujian nasionalnya di atas rata-rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentunya berharap agar Ujian Nasional tak lagi menjadi alat pembodohan dan penindasan sistemik yang hanya mengakibatkan jatuhnya “korban” dimana-mana. Cukup sudah kita melihat betapa banyak pelajar di negeri ini yang stress, frustasi atau bahkan bunuh diri hanya karena mereka tak bisa memenuhi keinginan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hentikan Ujian Nasional. Lakukan evaluasi terhadap hasil UN tahun-tahun sebelumnya. Paparkan terapi (treatment) apa yang dipersiapkan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan. Jangan hanya selalu mematok angka-angka batas kelulusan sementara tidak melakukan perbaikan secara komprehensif. Jangan lagi menghamburkan-hamburkan ratusan miliar uang negara untuk hajatan nasional yang hanya dijadikan lahan proyek bagi pihak yang tidak bertanggung jawab. Lebih baik gunakan dulu untuk memperbaiki fasilitas dan layanan pendidikan seluruh anak didik di negeri ini baru kemudian diuji secara nasional. Sudah saatnya kita mengakhiri kegemaran mengutak-atik kebijakan dan segera merancang blueprint pendidikan nasional agar visi pendidikan Republik Indonesia dapat lebih terarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, jika Kemendiknas masih tetap ngotot melaksanakan Ujian Nasional, kita tantang Pak Menteri, Bapak Muhammad Nuh, BSNP beserta jajarannya untuk ikut menyelesaikan soal ujian bersama pelajar di bulan Mei mendatang. Kita buktikan apakah beliau-beliau yang terhormat itu juga sanggup memenuhi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-3992322686527479930?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/3992322686527479930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2011/02/ujian-nasional-bareng-pak-menteri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3992322686527479930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3992322686527479930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2011/02/ujian-nasional-bareng-pak-menteri.html' title='Ujian Nasional Bareng Pak Menteri'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-3307092674895529342</id><published>2010-10-15T21:00:00.000-07:00</published><updated>2010-10-15T21:00:27.558-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Dimensi Sosial Merapatkan Shaf Shalat</title><content type='html'>Jum’at pekan lalu, saya melaksanakan shalat jum’at di salah satu masjid di kawasan jalan Pongtiku. Tidak banyak yang sempat saya dengarkan dari khutbah saat itu. Bukan karena saya tertidur seperti kebanyakan kita yang tertidur saat khotib menyampaikan khutbahnya atau bicara bersama teman di samping saya. Itu karena saya telat hadir di masjid saat itu sehingga mungkin pahala yang saya dapatkan hanya sebutir telur ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khutbah selesai dan muadzin segera ambil posisi dan mengumandangkan iqamah. Shalat jum’at berjamaah akan segera dimulai. Imam pun mengingatkan kepada jemaah untuk meluruskan shaf dan merapatkannya sebelum nantinya ia mengangkat takbir. Saya pun antusias merapikan dan mengajak jamaah yang lain untuk merapatkan shaf. Beberapa kali saya menyeru namun orang di samping saya tak juga merapat. Akhirnya kubiarkan saja shaf itu renggang dan kumulai untuk ikut takbir. Dalam hati sempat terbersit kekesalan akan orang yang disamping saya yang tidak mau merapatkan shafnya. Seperti kebiasaan saya menggumam dalam hati setiap kali saya shalat di masjid. Apalagi masjidnya agak besar. Sering saya berfikir, mengapa kita selalu membiarkan shaf kita tidak rapi, membiarkan celah menganga dimana-mana. Mengapa di masjid besar tak pernah kutemukan jemaah shalat dengan shaf yang lurus, rapat dan rapi?. Apakah ini meniscayakan keseharian kita yang enggan bersatu? Lewat tulisan ini, semoga kita bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dalam berjamaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Merapatkan Shaf&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jama’ah sendiri berasal dari kata Al-Jam’u, Al-Jam’ah yang berarti jumlah manusia yang banyak. Lawan dari kata ini adalah Al-Mutafarruq (perpecahan). Jadi, shalat berjamaah itu sendiri adalah shalat yang dilakukan secara bersama antara imam dan makmum dan di dalammnya terdapat ketentuan atau syarat-syarat tertentu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ketentuannya adalah meluruskan dan merapatkan shaf. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Nu’man bin Basyir ra. Rasululullah SAW pernah bersabda “Luruskan (samakanlah) shaf-shaf kalian (beliau mengulangi 3 kali), maka demi Allah  hendaklah kalian meluruskan shaf kalian atau sungguh Allah akan menyelisihkan diantara hati-hati kalian.” Dalam riwayat lain disebutkan “Hendaklah Kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menyelisihkan di antara wajah-wajah kalian.”(Hadist riwayat Bukhari). Dua dalil ini mengisyaratkan kepada kita bahwa meluruskan dan merapatkan shaf adalah wajib dalam shalat berjamaah. Mengapa wajib? Karena di akhir sabda rasul ini didapati ancaman jika kita membiarkan shaf renggang. Ancaman bahwa Allah akan menyelisihkan di antara wajah-wajah kalian itu sebenarnya dapat dimaknai sebagai peluang adanya perselisihan, pertikaian atau perbedaan dalam ummat Islam jika kita enggan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah. Rasulullah SAW juga mengingatkan kepada kita “Rapatkanlah shaf-shaf kalian, saling berdekatanlah, dan luruskanlah dengan leher-leher (kalian), karena demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamannya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah-celah shaf seakan-akan dia adalah kambing kecil.” (HR Abu Dawud). Bisa jadi syetan-syetan yang menyelinap dalam celah-celah shaf itulah yang menyemaikan benih kebencian dalam hati kita sehingga shalat yang kita lakukan tidak mampu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza Wa Jalla berfirman “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang rapi (teratur) seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (Surah Shaf : 4). Ayat ini menyerukan kepada manusia untuk merapatkan barisan dalam jihad di jalanNya. Tidak hanya dalam jihad berperang tetapi juga shalat berjamaah. Shalat berjamaah juga merupakan jihad, karena dalam melaksanakannya kita dituntut untuk rela meninggalkan pekerjaan, perdagangan kita atau aktivitas apapun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga sering mendapati imam menyeru acap kali ingin memulai shalat berjamaah. “Sawu shufufakum..” atau “Luruskan dan rapatkan shaf..” agar para jemaah mudah mengerti. Di saat seperti ini semestinya para  jemaah wajib menaati perintah sang imam untuk merapatkan shaf. Karena antara imam dan makmum terdapat relasi instruksional agar makmum mengikuti imam. Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk kamu ikuti, maka janganlah kamu menyelisihinya…” Jelaslah bahwa sebagai seorang makmum kita harus mengikuti imam, baik gerakan atau perintahnya, termasuk seruan merapatkan shaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dimensi Sosial &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak makna yang terkandung dalam shalat berjamaah. Terlebih jika kita merapikan dan merapatkan shaf kita. Beragam manfaat yang ditawarkannya. Pertama, shalat berjamaah mampu membangun hubungan emosional yang erat diantara kita. Membangun kepedulian satu sama lain. Salam di akhir shalat itulah yang merupakan manifestasi kepedulian kita . Mendoakan keselamatan bagi orang yang berada di kiri kanan kita. Terkadang, dua orang yang bermusuhan bisa kembali berbaikan jika ia shalat berjamaah. Kedua, dalam shalat berjamaah terdapat kesetaraan. Kesetaraan sebagai manusia yang sama di hadapan sang Khalik. Tak ada diferensiasi antara si kaya dan si miskin, pejabat dan  rakyat. Semua sama, semua punya hak untuk berada di dalam satu shaf. Terlebih ketika diri ini bersujud, merendahkan diri di hadapanNya. Ketiga, shalat berjamaah mengajarkan kita untuk disiplin dan membiasakan diri untuk mengikuti pemimpin kita. Tak ada yang berani menolak untuk ruku’ ketika imam ruku’ dan sujud ketika imam sujud. Begitu pula jika kita masbuk, kita dianjurkan untuk langsung mengikuti gerakan imam. Semua bergerak bersama dalam satu komando. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu bermuara pada dimensi terpenting dalam shalat berjamaah. Adalah memupuk rasa integritas, kesatuan gerak, kesatuan rasa. Semua bersatu dalam gerak harmoni seirama, dipimpin oleh satu imam. Shalat berjamaah menghidupkan rasa kemerdekaan (freedom), persamaan (equality) dan persaudaraan (brotherhood)  Dimensi social inilah yang sebenarnya bisa memberikan stimulus bagi perkembangan perilaku kita. Toleran, kerukunan dan kebersamaan. Hal yang jarang kita dapati dalam kehidupan nyata. Padahal, jika kita mengamati kemajuan prilaku religiusitas masyarakat sekarang semakin meningkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tengok, masjid yang dulunya sering kosong melompong kini telah diisi oleh jemaah. Di masjid dekat rumah saya, jamaah shalat isya yang dulunya tidak lebih dari satu shaf kini merapat ke belakang hingga mencapai tiga shaf. Bak gayung bersambut, pembangunan masjid pun dimana-mana. Data dari Departemen Agama menunjukkan saat ini kurang lebih ada sekitar 700.000 buah masjid tersebar di seluruh pelosok negeri. Meningkat dari tahun 2004 yang jumlahnya hanya 643.834 buah masjid. Pengurus masjid berlomba-lomba mempercantik bangunan masjid dengan memugar sana-sini, berusaha keras agar jemaah nyaman berada di dalam masjid. Entah tujuannya untuk apa. Apakah agar pemasukan celengan masjid bertambah atau apalah. Terlepas dari tendensi dan motivasi di baliknya, yang jelas kita bersyukur atas semua itu. Karena masyarakat kita kini lebih religius. Jika begitu, mengapa toleransi, kerukunan dan kebersamaan sulit kita raih? Mengapa kita masih saja saling menghujat dan menyalahkan satu sama lain? Hingga berujung pada pertikaian, tawuran yang tak jarang merenggut nyawa. Seakan menganggap perdamaian, prestise itu hanya diperoleh dari perang. Mengapa kita malah semakin “buas” setelah ritual keberIslaman kita meningkat? Justru banyak diantara kita yang mengaku beriman namun malah menjadi “panglima” setiap kali ada kekerasan dengan alasan agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Refleksi&lt;br /&gt;Mungkin salah satunya disebabkan karena kekeliruan kita dalam menjalankan aktivitas keberagamaan kita. Kita menganggap bahwa ibadah hanya sekedar dimensi ritual an sich. Tak ada dimensi social di dalamnya. Salah satunya, dalam melaksanakan shalat berjamaah. Kita enggan menyempurnakan dan merapatkan shaf. Padahal ketika berjamaah itulah moment dimana seluruh umat muslim bisa bersatu. Tak ada perbedaan, satu kata dan perbuatan. Kita tentunya sangat menantikan hal itu. Dimana toleran, kerukunan dan kebersamaan terangkum dalam kehidupan social kita. Yang jelas, perdamaian dan kerukunan yang kita dambakan bersama bukanlah suatu yang absurd. Ummat Islam bersatu bisa saja dicapai jika kita mulai dari hal yang kecil seperti ini. Namun jika kita masih enggan, sangat naif jika kita berharap demikian. Semua ummat bersatu membagun negara ini atau bahkan melawan musuh Islam. Wajar jika perpecahan dan perselisihan itu masih ada. Seperti hadits Rasulullah berikut ini; Hai hamba-hamba Allah, kalian benar-benar meluruskan shaf kalian (jika tidak) Allah akan (menimbulkan perselisihan) di antara wajah-wajah kalian.” (HR Muslim dan Ahmad) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-3307092674895529342?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/3307092674895529342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2010/10/dimensi-sosial-merapatkan-shaf-shalat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3307092674895529342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3307092674895529342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2010/10/dimensi-sosial-merapatkan-shaf-shalat.html' title='Dimensi Sosial Merapatkan Shaf Shalat'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-2331194826436644478</id><published>2010-10-11T00:16:00.000-07:00</published><updated>2010-10-11T00:20:26.971-07:00</updated><title type='text'>Penjahat</title><content type='html'>Seorang pemuda duduk di trotoar jalan meminta-minta sedekah dari orang-orang yang lewat di jalan. Pemuda itu besar dan bertubuh kekar namun tubuhnya lemas karena lapar. Di sana ia duduk sambil menengadahkan tangan sambil meminta kepada yang lalu lalang, memohon dengan sangat kemurahan hari mereka untuk mengasihinya, meratapi nasib dan menangis didera pedih perih perut karena lapar.Malam telah larut karena gelap. Bibirnya menjadi kering dan lidahnya berubah layu dan tangan dan perutnya kosong melompong. Ia beranjak dan pergi ke luar kota dan duduk di bawah pepohonan serta meratap dengan ratapan yang getir. Ia menengadahkan matanya yang berkaca-kaca ke atas dan mengadukankelaparannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan, aku telah mendatangi si kaya untuk mencari kerja namun mereka acuh lantaran pakaianku yang compang-camping. Telah kuketuk pintu rumah sekolah dan mereka melarangku masuk karena tanganku hampa. Kucari pekerjaan demi nafkah sehari-hari tapi orang menolakku karena nasibku bertentangan dengan diriku. Maka, aku pun kini mengemis."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;br /&gt;"Mereka yang menyembah Engkau, wahai Tuhan, memandang diriku dan berkata orang ini kuat dan mampu, sedang belas kasihan bukan untuk mereka yang lamban dan malas. Ibuku melahirkanku atas ridho-Mu. Karena engkau pula aku ada. Mengapa orang meniadakanku rezeki yang kucari atas namamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seketika itu pula, air permukaanya berubah. Dia bangkit berdiri dengan mata yang nyalang bak bintang cemerlang. Lalu dari cabang pohon yang mengering dibuatnya tongkat berat. Diacungkannya ke tengah kota dan berteriak. "Aku mencari nafkah dengan peluh keningku namun tiada mendapatkannya. Kini, aku akan mengambilnya dengan kekuatan tangan besiku. Telah kuminta sepotong roti atas nama cinta, namun tak seorang pun mendengarkan diriku. Kini aku akan mencarinya atas nama kejahatan.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berlalu dan pemuda itu memenggal leher insan demi kepentingan perhiasannya dan merusak tubuh demi memuaskan nafsu makannya. Dia akhirnya bertambah kaya dan tersohor karena kekejaman dan kebengisannya. Dia dicintai di kalangan perampok dan ditakuti oleh orang-orang yang patuh hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah orang dengan ketamakannya melahirkan para penjahat yang menyedihkan dan dengan kekerasannya mengubah anak yang baik menjadi penjahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-2331194826436644478?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/2331194826436644478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2010/10/penjahat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/2331194826436644478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/2331194826436644478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2010/10/penjahat.html' title='Penjahat'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-5489224282494652398</id><published>2010-01-14T11:15:00.000-08:00</published><updated>2010-06-24T20:08:15.416-07:00</updated><title type='text'>Cara Mengubah File Word ke PDF</title><content type='html'>Sebenarnya genre tulisan ini sangat berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya di blog ini. Namun, saya merasa hal ini penting untuk saya sampaikan ke teman-teman sebab hal ini sangat krusial bagi Anda terutama bagi para pelamar pekerjaan atau beasiswa yang sering kali berhadapan dengan hal-hal yang menggunakan aplikasi PDF di dalamnya, misal Curriculum Vitae. Selain itu, sebenarnya saya cuman mau nambahin aja postingan terbaru krn dah lama nggak ngubah-ngubah tampilan blog ini.. (hehehe,, lagi males kali yak..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik, daripada berlama-lama membincang kenapa tulisan ini hadir mari kita mulai "berlatih" (hehehe,, kyk PSSI aja..) mengubah file word Anda ke PDF. Tapi, sebelumnya saya sampaikan bahwa tutorial seperti ini sebenarnya sudah sangat banyak namun menurut saya tutorial ini lebih mudah dari yang laen.. Karena selain singkat, ini juga murah lho.. cukup 5000 rupiah saja (lha kok malah jualan yak?? hehehe..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke cappo,,!! Let's play..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pertama,, silakan teman-teman download dulu software gratis dan "ringan" ini &lt;b style="color: blue;"&gt;&lt;a href="http://www.dopdf.com/"&gt;doPDF&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jika sudah selesai, langsung diinstal aja ke komputer teman-teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sudah??? Langkah selanjutnya,, teman-teman tinggal membuka file &lt;b&gt;Microsoft Word &lt;/b&gt;yang ingin Anda ubah ke dalam bentuk PDF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setelah itu silakan pilih toolbar &lt;b&gt;Print &lt;/b&gt;atau menekan &lt;b&gt;Ctrl+P. &lt;/b&gt;Pastikan aplikasi yang udah temen-temen download dalam kondisi "aktif" (Ket : &lt;b&gt;Set as Default Printer : doPDF v7&lt;/b&gt;) tapi jika belum, silakan mengaktifkannya di &lt;b&gt;Control Panel&lt;/b&gt; -&lt;b&gt; Printer and Faxes&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pastikan Anda "berhadapan" dengan dialog box Print lalu pilih &lt;b&gt;OK&lt;/b&gt;. Maka selanjutnya akan tampil "dialog box" dr software tersebut. Pilih &lt;b&gt;Browse&lt;/b&gt; untuk menempatkan file yang telah Anda konversi ke PDF trus jangan lupa,, ketik nama file sesuka Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jika semua sudah dilewatin (ciee,, kayak petualangan aja..) pilih &lt;b&gt;OK &lt;/b&gt;dan tunggu sejenak maka file Anda akan tampil dalam bentuk PDF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana??? mudah kan..???? &lt;br /&gt;Kalo gitu silakan mencoba dan semoga bermanfaat...&lt;br /&gt;Nuun Wal Qalami Wa Maa Yasthurun&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-5489224282494652398?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/5489224282494652398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2010/01/cara-mengubah-file-word-ke-pdf.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/5489224282494652398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/5489224282494652398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2010/01/cara-mengubah-file-word-ke-pdf.html' title='Cara Mengubah File Word ke PDF'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-3152456729512116353</id><published>2009-09-13T07:18:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T07:45:12.862-07:00</updated><title type='text'>Ramadhan yang Khas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kawan,, Ramadhan bulan suci katamu&lt;br /&gt;kau meniru ucapan Nabi atau kau tlah&lt;br /&gt;merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu..??&lt;br /&gt;tapi, bukankah kau masih selalu menunda-nunda&lt;br /&gt;menyingkirkan kedengkian, keserakahan, ujub,&lt;br /&gt;riya, takabbur dan sampah-sampah lainnya yang&lt;br /&gt;masih mampat di comberan hatimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak terasa Ramadhan kan segera meninggalkan kita. Tersisa waktu sepekan untuk kita mengisinya dengan amalan-amalan yang mengharap ridhoNya. Telah banyak "program-program ramadhan" yang telah kita lewati. Mulai dari program perorangan kita hingga kalangan industri yang tlah jauh-jauh hari mempersiapkan diri dalam menyambutnya. Selama kurang lebih 23 hari nuansa ramadhan kita rasakan. Mulai dari spanduk-spanduk yg bejubel di mana-mana yang bertuliskan "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa", taraweh-an, buka puasa bareng ma keluarga, teman-teman, atau bahkan dengan kekasih pujaan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai fenomena khas kemudian tlah banyak kita jumpai dalam kurun waktu beberapa pekan belakangan ini. Singkat kata, jadwal dan acara yang menyibukkan kita di hari-hari ramadhan seperti sudah siap tersedia, tinggal mengikutinya. Kita telah memprogram Ramadhan, bukan sebaliknya Ramadhan yang memprogram kita. Kita kemudian merekayasa "kesucian" ramadhan bukan Ramadhan yang menyucikan kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja itu hanyalah gambaran umum. Selalu ada pengecualian pada gejala yang umum terjadi. Pastilah ada hamba-hamba yang kukuh bergeming, mencoba untuk melawan arus. Mereka yang memandang Ramadhan sebagai momen yang baik untuk mengharap ridhoNya. Menjadikan ramadhan sebagai anugrah Allah setelah selama sebelas bulan melakukan rutinitas yang seringkali jauh dari kepentingan diri baik spiritual ataupun emosional. Bagi mereka ramadhan bagaikan hadiah yang diberikan Allah berupa kesempatan untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri sebagai hamba dan khalifahNya. Bisa jadi mereka melihat fenomena keagaaman yang hadir saat bulan Ramadhan dengan kritis sehingga berupaya untuk paling tidak memilih untuk memulai dari diri sendiri saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpuasa sebagaimana yang lain berpuasa. Mereka merasa bahwa bulan ramadhan adalah kesempatan yang paling baik untuk melakukan perenungan, terutama terhadap amal perbuatan mereka yang bersifat keagamaan. Apakah amal mereka murni hanya karna mengharap ridhoNya? atau jangan-jangan niatannya disusupi dengan kehendak nafsu yang tersembunyi? Mengapa dzikir dan bacaan Qur'an mereka mesti melengking-lengking yang acap kali "mengganggu" orang kalau memang itu diniatkan hanya semata karna Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, di bulan Ramadhan ini, mereka berusaha seoptimal mungkin berpuasa dari hal-hal selain yang berkaitan dengan dambaan akan memperoleh ridhoNya.&lt;br /&gt;Apakah kita termasuk mereka? ataukah... ahh.. mudah-mudahan tidak.. amin..&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-3152456729512116353?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/3152456729512116353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/09/ramadhan-yang-khas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3152456729512116353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3152456729512116353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/09/ramadhan-yang-khas.html' title='Ramadhan yang Khas'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-2120794598402287593</id><published>2009-09-13T07:12:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T07:18:04.039-07:00</updated><title type='text'>Harga Sebuah Tanda</title><content type='html'>Ketika kepada Sayed Ghaus Ali Syah dipertanyakan "Mengapa engkau meminta bayaran sedemikian mahalnya untuk pelajaran-pelajaran yang engkau berikan?" beliau menjawab "Mengapa tidak..??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penanya melanjutkan :&lt;br /&gt;" Sudah tentu engkau tidak mengeluarkan biaya yang sedemikian besarnya untuk memperoleh pengetahunmu itu atau untuk hidup sambil membagi-bagikan pengetahuan itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebaliknya!" jawab sang sufi "untuk memperoleh pengetahuan itu aku telah mengeluarkan sedemikian banyaknya biaya sehingga uang tidak dapat menutupinya. Uang bagiku hanyalah sebuah tanda, tetapi bagimu adalah kenyataan"&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-2120794598402287593?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/2120794598402287593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/09/harga-sebuah-tanda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/2120794598402287593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/2120794598402287593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/09/harga-sebuah-tanda.html' title='Harga Sebuah Tanda'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-3525807571348782703</id><published>2009-06-06T07:13:00.000-07:00</published><updated>2009-06-06T07:15:18.720-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>Tuntutan Amerika Kepada SBY Jika Jadi Presiden</title><content type='html'>Seorang mantan Menteri di era Pemerintahan pasca Soeharto, mengaku memperoleh banyak masukan dari beberapa orang yang selama ini menjadi anggota Tim Sukses SBY. Informasi itu menyangkut issue seputar keterlibatan Amerika Serikat dibelakang kenaikan SBY sebagai Presiden RI. Ternyata keterlibatan semacam AIPAC, Pentagon, NSC, China perantauan, dan para Lobbyist Indonesia di Kongres negara adidayaa itu tidak bohong 100 persen. Keterlibatan mereka memang ada, meski ditutup-tutupi oleh kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mantan menteri yang hobbinya mancing itu, beberapa "tuntutan" negara adidaya itu memang masuk akal bagi kepentingan kapitalis globalnya. Dulu ketika dia masih menjabat di pemerintahan, daftar "keinginan" negara adidaya itu juga pernah disodorkan Presiden kepadanya yang menerima "pesan" itu melalui Dubes AS di Jakarta. Tapi kondisi dalam negeri yang saat itu sedang "chaos" akibat angin Reformasi yang berhembus kencang, sehingga beberapa bagian tuntutan itu tak semuanya bisa "dibayarkan" hingga dia keluar dari kabinet karena berubahnya pemerintahan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mantan menteri ini, mungkin saja AS masih menagih atas daftar tuntutannya yang belum kesampaian di negeri ini. "Nah, secara kebetulan pak SBY yang mau menerima "syarat" itu", katanya enteng. Apa saja sebenarnya yang diinginkan pihak Amerika untuk negeri kita saat ini?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang Ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Menteri itu mengatakan tuntutan negeri Paman Sam itu masih berkisar pada izin konsesi untuk tambang minyak dan gas bumi serta mineral lainnya. Misalnya saja izin konsesi untuk tambang tembaga dan emas di pulau Irian yang dikerjakan oleh PT Free Port. Mereka minta konsesi 100 thn untuk explorasi dan produksi, serta tambahan cakupan wilayah konsesi hingga mencapai 10 persen wilayah pulau kaya mineral itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk minyak dan gas bumi, mereka minta jaminan yang sama untuk PT Caltex Indonesia di Riau, PT Exxon untuk Aceh serta perluasan konsesi tambang migas untuk perusahaan UNOCAL di Kalimantan dan lepas pantainya. Dan diizinkan pula perusahaan AS ini membuka konsesi baru di wilayah kepala burung pulau Irian yang kaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk explorasi tambang gas terbesar di dunia, yaitu kepulauan Natuna, buah hasil kunjungan Presiden Clinton ke Jakarta beberapa tahun lalu, mereka juga prinsipnya meminta jaminan hukum dan kepastian yang membuat investasi mereka kelak di wilayah itu aman dari berbagai tuntutan rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sektor diluar pertambangan, kepentingan ekonomi AS yang diangap penting di negeri ini adalah operasi Lembaga Keuangan dan Perbankan Internasionalnya. Kata pak mantan menteri itu, mereka meminta Bank Indonesia dan Depkeu mengizinkian pembukaan cabang-cabang yang lebih luas untuk operasi perbankan dan lembaga keuangan asing, termasuk pasar uang dan pasar modal, di semua ibukota propinsi dan kota-kota metropolis lainnya di Indonesia. Selama ini memang operasi bank-bank asing semacam Citibank, terbatas di Jakarta dan kota besar di Jawa saja seperti Bandung dan Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu mereka juga meminta SBY kelak lebih mempererat kerjasama ekonomi dengan teman lama yaitu IMF, WB dan forum APEC. Juga menyangkut kebijakan Pemerintah Indonesia ke depan yang menjamin terjadinya proses Liberasi Ekonomi yang lebih agresif dan sehat. Termasuk melanjutkan privatisasi BUMN seperti zaman pemerintahan Megawati. Dan diizinkannya pihak asing menguasai asset BUMN hingga 100 persen dalam 5-10 tahun ke depan. Pesanan yang terakhir ini, kata pak mantan menteri itu, lebih merupakan "pesanan" para China Hoakiao yang berjasa memberikan pendanaan kepada partai Demokrat. Mereka ini di koordinasi oleh BUMN Singapore yang selama ini rajin memborong asset-asset Pemerintah RI yang dilego Megawati melalui kementrian BUMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan atas titipan Singapore tampaknya, pihak AS minta agar diizinkannya 'menyewa' dan 'mengexplorasi' beberapa pulau kecil yang tidak berpenghuni ke pihak asing dengan perlindungan hukum yang jelas. Juga ada tuntutan untuk diberikannya jaminan kebebasan oleh otoritas moneter Indonesia dalam proses transfer dana hasil keuntungan jaringan bisnis Internasional yang beroperasi disini tanpa ada lagi pembatasan jumlah dana yang keluar Indonesia. Dan untuk menjamin terlaksananya kebijakan ini, tak tanggung-tanggung mereka menitipkan sejumlah nama calon Menteri Ekonomi yang akan paham betul bagaimana kepentingan AS disini antara lain: Sri Mulyani, Marie Pangestu,Iwan Jaya Aziz, Dorojatun K Jakti, Baihaki Hakim, dan ECW Neloe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang Militer dan Keamanan Regional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang didapat pak Menteri menyebutkan bahwa Pemerintah AS, khususnya Pentagon, menginginkan Pemerintahan SBY kelak mendukung upaya AS dan negara sekutunya untuk melakukan internasionalisi selat Malaka dalam jangka waktu 2-3 tahun ke depan. Sementara untuk dalam negeri, pihak AS tampaknya ingin sekali melihat reformasi juga terjadi secara prinsipiil dalam organisasi TNI. Mereka meminta Pemerintahan SBY mempelopori upaya penghapusan fungsi territorial TNI dalam kurun waktu 5 tahun pemerintahannya. Juga mereka mendesak agar kekuatan TNI-Laut yaitu armada timur dan barat dilebur dan dihapuskan menjadi komando utama saja yang berpusat di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan persenjataan TNI yang selama ini diboikot AS? Mereka meminta kepada Pemerintahan SBY kelak agar usaha modernisasi persenjataan TNI tetap mengacu pada sistem persenjataan negara adidaya itu. Mereka meminta pembelian senjata ex-AS dilakukan tidak langsung dan cukup senjata bekas pakai dari negara ketiga yaitu: Korsel, Taiwan dan Israel. Sementara itu mereka juga meminta Pemerintah SBY membentuk badan baru di bidang intelejen kepolisian (semacam FBI) dengan berintikan anggota Detasemen 88 yang sebelumnya telah dididik FBI untuk penanggulangan terrosime global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang Politik dan Diplomasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka meminta agar Pelembagaan KPU dilakukan secara tetap untuk masa jabatan 5 tahun yad, melalui mekanisme hukum yang tegas dan lebih kuat sehingga tak mudah di intervensi dan digoyang DPR. Sementara di bidang otonomi daerah, mereka juga mengusulkan revisi UU Otonomi Daerah yang menjamin tiap Propinsi di Indonesia bisa lebih luwes dalam berhubungan secara langsung dgn pihak luar negeri, terutama dalam arus modal, tanpa menunggu Jakarta. Mereka juga berkeinginan melalu revisi UU Otoda itu, kelak propinsi-propinsi diIndonesia bisa mandiri sehingga suatu saat nanti akan mengarahkan NKRI menjadi negara Federal. Di bidang kepartaian, mereka meminta SBY agar bisa memikirkan sistem Multi Partai yang ada sekarang ini mulai dibatasi sehingga tersisa sekitar 2-3 parpol saja di masa depan seperti di AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diplomasi Internasional, pihak AS minta bantuan Pemerintahan SBY sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ikut aktif membantu kebijakan AS di Timur Tengah. Indonesia diminta untuk mendekati negeri-negeri Arab garis keras untuk bersikap moderat dan membantu Israel untuk merumuskan formula perdamainnya sendiri di Palestina. Indonesia diharapkan AS berperan aktif pula dalam kampanye melawan terrorisme internasional yang menjadikan Islam sebagai tameng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Fundamentalis dan Dunia Kampus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu untuk mencegah munculnya Islam Fundamentalisme dalam pendidikan di ponpes-ponpes di seluruh Indonesia, mereka mendesak Pemerintahan SBY kelak memiliki kewenangan mengatur ponpes-ponpes itu seperti Departemen Pendidikan mengatur sekolah-sekolah swasta. Pengaturan dan intervensi Pemrintah itu meliputi sistem pembelajarannya dan terutama kurikulum. Dan untuk mengimbangi perkembangan paham fundamentalisme di Indonesia, mereka mendesak agar Pemerintahan SBY kelak mendorong tumbuh-berkembangny a kajian-kajian Keislaman Moderat semacam Lembaga Kajian yang ada di negara-negara maju saat ini. Mungkin yang mereka maksud adalah semacam Jaringan Islam Liberal (JIL) yang sudah mereka danai selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan dinamika kampus-kampus di Indonesia yang selama ini menjadi sumber perubahan di Republik ini? Ternyata Pemerintah AS berencana akan meyekolahkan ratusan pemuda Indonesia kembali setiap tahunnya seperti di masa lalu, dengan program bea siswa yang didanai oleh Deplu AS dan Lembaga Donasi lainnya di AS. Maksud program itu intinya agar mereka memiliki persepsi yang pas tentang Amerika Modern dewasa ini. Pihak AS juga sudah akan membuka pusat-pusat layanan Informasi di berbagai kampus di seluruh Indonesia (sebuah sudah di bangun AS di Univ. Muhammadiyah Malang tahun ini), menyangkut informasi seputar kehidupan bangsa Amerika. Hal sama akan mereka lakukan melalui badan penyiaran Internasional AS yaitu "Voice of America (VoA)" yang akan merintis lebih banyak lagi unit-unit siaran mereka di Indonesia dalam bentuk kerjasama dalam materi pemberitaan dan siaran untuk radio maupun televisi di sluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Forum.swaramuslim. net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-3525807571348782703?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/3525807571348782703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/06/tuntutan-amerika-kepada-sby-jika-jadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3525807571348782703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3525807571348782703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/06/tuntutan-amerika-kepada-sby-jika-jadi.html' title='Tuntutan Amerika Kepada SBY Jika Jadi Presiden'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-4819264860766790177</id><published>2009-06-06T07:07:00.001-07:00</published><updated>2009-11-20T07:41:32.363-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mengapa Menolak Mazhab Neoliberalisme</title><content type='html'>Depresi besar pada 1930-an merupakan satu peristiwa traumatik yang pernah melanda umat manusia. Kejadian ini sangat mengejutkan banyak orang mengingat pencapaian yang begitu gemilang dalam ekonomi barat. Akibat depresi ini, standar hidup masyarakat mengerdil sampai ketitik nadir. Bank-bank dengan nama besar ambruk di gulung oleh gelombang depresi ekonomi. Pengangguran bergerak kepuncak dan saham dibursa pasar finansial terjung bebas. Eropa dirundung duka dan seluruh dunia diambang tsunami ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini diabad ini dimana ekonomi berada dipuncak geliatnya seakan mengingatkan kita pada peristiwa serupa dimasa lampau. Banyak ahli ekonomi mengatakan bahwa ini hanya guncangan finansial semata. Tapi saya tidak setuju dengan pandangan mayoritas ilmuwan dan pengamat ekonomi itu. Bagi saya, ini krisis kapitalisme dan merupakan bukti kegagalan dari model ekonomi yang ditukangi oleh Adam Smith ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini semua orang tiarap. Pabrik-pabrik gulung tikar. Bank-bank juga gamang dan tersungkur satu persatu. Aktivitas ekonomi hampir tak lagi bergerak. Aliran import dan eksport terhenti. Perusahaan-perusahaan kelas raksasa memberhentikan karyawannya demi bertahan hidup dan efisiensi. Banyak orang lalu bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang pusing dengan kondisi krisis ekonomi yang melanda dunia. Dan pengamat memprediksi, kondisi ini belum memiliki tanda-tanda akan berakhir. Negara-negara yang selama ini memuja pasar, kini dengan sangat malu harus menyelamatkan ekonominya melalui berbagai stimulus fiskal. Sebuah langkah yang amat dibenci oleh eyang Smith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Neoliberalisme&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ekonomi, pemikiran mengenai mekanisme pasar bebas jika ditelusuri jauh kebelakan, maka gagasan ini berawal dari seorang tokoh mazhab fisiokrat, Francis Quesnay. Mottonya yang terkenal laissez faire – laissez passer sangat menginspirasi Smith dalam melahirkan konsep free market systemnya di kemudian hari. Bagi Smith negara sedapat mungkin tidak melakukan campur tangan dalam mengatur perekonomian. Biarkanlah perekonomian berjalan dengan wajar tanpa campur tangan negara. Sebab akan ada suatu tangan tak kentara (invisible hand) yang akan membawa perekonomian tersebut bergerak kepada keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan ini saya kira tidak bisa dilepas dari pemikiran seorang ilmuwan lainnya, Charles Darwin. Darwin mengatakan bahwa dalam hidup ini akan terjadi suatu pertarungan dimana yang akan muncul menjadi pemenang adalah mereka yang terbaik. Atau dalam istilah ekonomi sekarang, ialah mereka yang paling kompetitif. Mereka yang membayar tenaga kerja murah, efisien dalam alokasi sumber daya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smith lupa bahwa karakteristik manusia itu serakah. Sehingga dalam prakteknya kita tak menemukan suatu pun teori ini menemukan relefansinya. Orang-orang begitu curang. Apa pun dilakukan dalam mengakumulasi kapital. Hal-hal yang bersifat etik pun ditabrak. Jadilah perekonomian itu menjadi rimba yang menggulung orang-orang kecil. Hukum rimba berlaku, siapa yang kuat dialah yang akan menang. Siapa yang paling memiliki akses dialah yang menang. Dalam kondisi inilah terjadi selingkuh antara kuasa dan modal yang melahirkan anak haram koorporatokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neoliberalisme sendiri merupakan hasil dari evolusi pemikiran ini. Dalam perkembangannya neoliberalisme mengalami pembelahan. Pertama, aliran Ordo Neoliberalisme. Pemikiran ini berkembang di Jerman akhir tahun 20-an, pemikirannya sudah mengakomodasi kritikan-kritikan yang dilancarkan oleh pengikut Marx. Kedua, aliran neoliberalisme yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh neoliberal yang tergabung dalam The Mont Pelerin Society (MPS). Aliran ini tidak menghendaki adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian dan menjadikan pasar sebagai satu-satunya tolak ukur keberhasilan program-program pembangunan. Bahkan pada tingkat tertentu mazhab ini menihilkan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh mazhab pasarisme ini antara lain: F.A. Heyek, Milton Friedman, Gray S. Becker, dan George Stigler. Dan pendukung paling banyak aliran ini adalah orang-orang Yahudi jebolan ekonomi Universitas Chicago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengingatkan kita semua dengan pidato Prof. Boediono di gedung Sasana Budaya Ganesha, Bandung, Jum’at (15/05) “Negara tidak boleh terlalu banyak campur tangan. Sebab itu akan mematikan kreativitas. Tetapi negara juga tidak boleh hanya tertidur.” coba perhatikan dua anak kalimat awal dari professor ilmu ekonomi UGM ini betapa terang bagaimana jalan pikiran ekonomi pasar dan moneteris yang menjadi lokomotif ekonomi bagi guru besar UGM ini. Ini persis dengan pernyataan dedengkot pasarisme, Friedman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya meyakinkan kita semua bagaimana jalan pikiran pak Boediono, coba kita buka kembali pidato pengukuhan guru besarnya di bidang ilmu ekonomi tahun 2007 yang lalu di Bulaksumur. Dalam pidato puncak karir akademiknya itu, lelaki kalem yang tak banyak bicara ini menulis dengan judul “Dimensi Ekonomi-Politik Pembangunan Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam naskah itu tertera jelas pertumbuhan amat didengunkan. Karena pertumbuhan akan memberikan efek tetes minyak bagi masyarakat. Dengan begitu diharapkan terjadi pemerataan, mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Inilah yang disebut dengan trickle down effect. Saya melihat pak Bud, memahami sejarah ekonomi kita sebagai sebuah rangkaian peristiwa saja, padahal menurutku amat banyak hal substansial yang bisa dipelajari atau dimaknai disana. Juga pak Bud abai dengan serangkaian aspek struktural, misalnya bagaimana relasi ekonomi kita sebagai bagian dari struktur besar merkantilisme, Belanda (VOC) sebagai negara jajahan. Itu yang membuat begitu kuatnya Hatta dalam mempertahankan koperasi sebagai basis ekonomi bagi Indonesia. Walau pun ini mungkin "gagal" dalam implementasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sama sekali tidak ingin masuk membicarakan pribadi pak Bud, saya lebih tertarik mempersoalkan wilayah pemikirannya semata karena saya takut terjebak dalam kesesatan berfikir (fallacy) dan lalu menyerang orang secara pribadi atau Argumentum ad Hominem. Sosok pak Bud adalah pribadi yang sederhana dan baik dan tak banyak basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa harus menolak Neoliberalisme?&lt;br /&gt;Jelas secara normatif, ekonomi haluan liberal dalam konteks Indonesia tidak mendapat tempat secara konstitusional. Sebab dalam ekonomi nasional yang dianut adalah asas kolektivisme. Ini tercermin dalam UUD 1945 ada dua anak kata yang amat menarik yaitu ‘kesejahteraan’ dan ‘keadilan’. Artinya para founding father negeri ini merancang suatu bangunan ekonomi yang menyejahterakan dan berkeadilan. Dengan koperasi sebagai instrumennya. Para pendiri republik menyadari betapa berbahayanya kepemilikan individual apalagi berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, secara praksis ekonomi, sebenarnya ekonomi neoliberal telah gagal dalam menyejahterakan umat manusia. Rentetan krisis ekonomi yang terjadi mulai tahun 30-an, 60-an, 90-an dan sekarang 2009 menunjukkan betapa model ekonomi ini tidak memiliki basis sosial yang kuat dan menjadi alasan bagi negara-negara dunia ketiga untuk mempertahankannya. Ia telah gagal dan menjilat ludahnya. Dengan sangat malu, terpaksa harus melakukan campur tangan fiskal dalam bentuk stimulus untuk menjaga agar praktek ekonominya tidak ambruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengutip James Tobin, peraih nobel ekonomi tahun 1981, ia menulis begini "Kita menghamburkan semakin banyak sumber daya kita ke dalam semakin banyak aktivitas keuangan yang kian menjauh dari produksi barang dan jasa. Itulah kegiatan pengerukan laba yang sama sekali tidak punya produktivitas sosial. Genesius komputer telah disalahgunakan untuk 'ekonomi kertas', tidak membantu transaksi ekonomi secara produktif, tetapi hanya menggelembungkan jumlah dan ragam transaksi finansial. Itulah mengapa sampai kini tinggi hanya menghasilkan dampak mengecewakan bagi ekonomi, membantu pembiakan spekulasi yang ganas, tidak efisien dan bermata rabun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jujur Andrew Lahde, seorang pialang pasar saham yang pada tahun 2007 lalu pernah melipatgandakan uang para kliennya sampai 1.000 persen. Ia adalah pemilik Lahde Capital. Ia tidak sampai bunuh diri akibat krisis finansial yang melanda USA, namun ia menulis surat selamat tinggal yang kira-kira intinya bahwa hidup akan kian mencekik dan resesi ekonomi beberapa tahun kedepan belum akan berakhir. "Saya memilih duduk di pinggir, menunggu. Bukankah duduk dan menunggu tanpa melakukan apa-apa adalah cara yang selama ini kita pakai untuk menjarah uang kredit perumahan? Kapitalisme telah hidup 200 tahu, tetapi zaman telah berubah, dan sistem ini sekarang telah menjadi sedemikian korup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara etik, ekonomi neoliberal sangat tidak adil. Hukum rimba tak bisa dihindari dalam kompetisi pasar. Akhirnya menghalalkan segala cara untuk mengakumulasi kapital, baik yang dilakukan oleh individu pemodal atau pun yang dilakukan oleh negara. Lahirlah anak haram rezim koorporatokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata wassalam kapitalisme global.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-4819264860766790177?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/4819264860766790177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/06/mengapa-menolak-mazhab-neoliberalisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4819264860766790177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4819264860766790177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/06/mengapa-menolak-mazhab-neoliberalisme.html' title='Mengapa Menolak Mazhab Neoliberalisme'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-5809258130035956231</id><published>2009-03-17T10:32:00.001-07:00</published><updated>2009-03-17T10:34:35.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>Partai Yang Katanya Bersih...</title><content type='html'>DENPASAR - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berusaha membela diri atas penangkapan salah satu calon anggota legislatifnya dalam kasus illegal logging. Menurut pengurus PKS Bali, Muhammad Ilyas hanyalah kader pindahan dari parpol lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia (Ilyas) hanyalah kader pindahan dari partai lain yang baru enam bulan ikut bergabung ke PKS. Ini karena jumlah kader PKS di Jembrana sedikit, sehingga kita terpaksa mengambil kader dari luar," kata Ketua DPW PKS Bali Heri Sukarmaeni ketika dihubungi lewat telepon, Senin (2/3/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Heri, selain karena keterbatasan jumlah kader, pertimbangan partainya merekrut Ilyas karena yang bersangkutan memiliki pemikiran proggresif. Ilyas, imbuhnya, selama ini memiliki rekam jejak bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Heri mengaku kecolongan. Apalagi dari 5.000 kader PKS di Bali belum ada yang pernah tersangkut tindak pidana. Dengan adanya kasus tersebut, Heri juga mengakui pihaknya belum melakukan pengkaderan secara maksimal. "Karena itu kita serahkan kepada proses hukum yang berlaku. Soal mundur atau tidak, KPU yang akan memutuskan," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diberitakan sebelumnya, Ilyas yang menjadi caleg PKS dari daerah pemilihan Kabupaten Jembrana ditangkap polisi karena menjadi pelaku illegal logging. Ia kini mendekam di sel tahanan Mapolres Jembrana, Bali. (ful)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-5809258130035956231?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/5809258130035956231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/03/partai-yang-katanya-bersih.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/5809258130035956231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/5809258130035956231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/03/partai-yang-katanya-bersih.html' title='Partai Yang Katanya Bersih...'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-5822599541179802288</id><published>2009-02-05T11:09:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T12:29:11.827-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Menyikapi Geliat Pemekaran Wilayah</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SYtJPbcI2iI/AAAAAAAAAD0/xwtrsFqOfPc/s1600-h/11-demo-pemekaran.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299409915944163874" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 203px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SYtJPbcI2iI/AAAAAAAAAD0/xwtrsFqOfPc/s320/11-demo-pemekaran.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Baru-baru ini kita dikagetkan oleh pemberitaan di stasiun TV tentang kematian salah satu anggota legislatif DPRD Tingkat I Provinsi Sumatera Utara. Abdul Aziz Angkat, Ketua DPRD Sumut sekaligus aktivis Partai Golkar meninggal dunia setelah Selasa pagi, sekitar seribu orang menamakan dirinya Aliansi Pendukung Propinsi Tapanuli menyerbu gedung dewan untuk mendesak DPRD Sumut untuk segera menyetujui pemekaran wilayah Propinsi Tapanuli dan melakukan pengrusakan dan bahkan kekerasan terhadap Caleg DPR RI tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya sepele, masyarakat menginginkan agar DPRD Sumut segera menyetujui draft proposal pengajuan pemekaran yang sebelumnya telah disetujui oleh Gubernur Sumut hingga menjadi perbincangan di DPR RI. Namun, yang menjadi pertanyaan kemudian mengapa masyarakat sangat menginginkan adanya pemekaran wilayah ini? dan malah mengakibatkan Ketua DPRD Sumut sebagai "tumbalnya"? Apakah ada maksud terselubung dibelakang semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Spirit Otoda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemekaran wilayah sebenarnya telah ada sejak dulu, yakni pada tahun 1950 dimana saat itu Propinsi Sumatera dimekarkan Provinsi Sumatera Utara (termasuk di dalamnya Aceh), Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan dan dilanjutkan pada tahun 1956, Provinsi Kalimantan dipecah menjadi provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Begitu seterusnya hingga akhirnya pemekaran wilayah terakhir terjadi pada tahun 2004 yang lalu dimana Sulawesi Selatan dipecah menjadi Sulawesi Barat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit awal pemekaran wilayah ini sebenarnya adalah untuk mencoba meningkatkan taraf hidup rakyat, melakukan pengelolaan sumber daya secara efisien dan mengupayakan pelayanan yang optimal terhadap kebutuhan rakyat. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, spirit ini nampaknya memudar dan tergantikan oleh -klo saya menyebutnya sikap latah- semangat otonomi daerah. Pemekaran wilayah atau pembentukan daerah otonomi baru semakin marak sejak disahkannya UU No 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang kemudian direvisi menjadi UU No 32 Tahun 2004. Sejak adanya UU ini tercatat hingga Desember 2008 telah terbentuk 215 daerah otonom baru yang terdiri dari tujuh provinsi, 173 kabupaten, dan 35 kota. Dengan demikian terdapat 524 daerah otonom yang terdiri dari 33 provinsi, 398 kabupaten, dan 93 kota. Bahkan menurut perkiraan, pada tahun 2020 Indonesia nantinya akan memiliki 40 propinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya hal ini sangat mengagetkan kita. Betapa tidak, dengan maraknya pemekaran wilayah ini bisa jadi akan terjadi disintegrasi di Indonesia. Mengapa, karena hal ini tentunya akan memicu konflik horizontal antara wilayah yang lama dengan wilayah yang baru. Tragedi di Sumut cukuplah menjadi contoh. Desakan masyarakat untuk membentuk Propinsi Tapanuli akhirnya berujung pada meninggalnya salah satu legislator Sumut. Belum lagi, Kapolda Sumut yang meningkatkan status keamanan di Sumut menjadi siaga satu setelah kejadian tersebut. Banyak hal yang bisa saja terjadi dan nampaknya akan sangat berdampak pada stabilitas suatu wilayah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Dibutuhkan Pengkajian Mendalam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika alasannya untuk mensejahterakan rakyat dengan perbaikan ekonomi dan taraf hidup masyarakat, saya rasa hal itu merupakan hiasan bibir belaka. Telah banyak realita yang kita dapatkan ketika suatu daerah melakukan pemekaran wilayah tidak banyak membantu mensejahterkan rakyat. Yang ada hanya rakyat semakin miskin dan melarat serta terbelakang diakibatkan oleh manajemen pemerintahan yang tidak jelas atau bisa juga kita sebut grand design. Muncullah predator-predator baru yang akan senantiasa menghisap nadi masyarakat. Gedung-gedung pemerintahan baru ada di sana-sini yang akhirnya mengahambur-hamburkan anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adanya perencanaan dasar atas wilayah yang dimekarkan bisa jadi akan mengorbankan rakyat yang pada awalnya bertujuan untuk memakmurkan rakyat. Setidaknya dalam melakukan pemekaran wilayah terlebih dahulu dipersiapkan grand design dengan mencoba menganalisis bagaimana penataan wilayah dan sistem administrasi ketika dilakukan pemekaran wilayah. Selain itu, peta politik masyarakat dan administrasi pemerintah harus menjadi dasarnya. Jadi, dalam melakukan pemekaran wilayah tidak hanya merujuk pada cukup tidaknya jumlah daerah yang akan masuk ke wilayah tersebut. Sehingga, jika hal ini tidak dipenuhi maka saya rasa tidak ada alasan untuk setuju dengan pemekaran wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat geliat pemekaran wilayah yang saat ini terasa di beberapa wilayah nampaknya hanya didasari oleh tendensi politik atau kepentingan sesaat saja. Mengapa demikian, karena penulis menganggap bahwa justifikasi untuk membentuk wilayah baru tidak rasional. Hanya didasari oleh jumlah daerah yang menghuni wilayah tersebut dan bahkan hanya merujuk pada sejarah yang telah diukir oleh daerah yang melakukan pemekaran sebelumnya, di Bangka Belitung misalnya. Tentu sangat naif jika kita mengorbankan tanah air kita, mengubur impian rakyat kita akan kesejahteraan hanya karena tendensi politik dan kepentingan sesaat belaka. Jadi, perlu ada pengkajian yang lebih komprehenif dan fundamentalnya nampaknya sebelum memutuskan untuk "bercerai" dengan "rumah asal". Akhirnya, kita berharap fenomena ini tidak dijadikan sebagai ajang untuk meraup keuntungan bagi pribadi, golongan atau pihak manapun. Apalagi hal ini dimanfaatkan untuk kepentingan politik belaka. Mudah-mudahan tidak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-5822599541179802288?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/5822599541179802288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/02/menyikapi-geliat-pemekaran-wilayah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/5822599541179802288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/5822599541179802288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/02/menyikapi-geliat-pemekaran-wilayah.html' title='Menyikapi Geliat Pemekaran Wilayah'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SYtJPbcI2iI/AAAAAAAAAD0/xwtrsFqOfPc/s72-c/11-demo-pemekaran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-466828758608627716</id><published>2009-01-26T07:12:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T07:14:00.311-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>IPM Makassar Mengutuk Agresi Israel ke Palestina</title><content type='html'>Agresi besar-besaran yang dilakukan oleh Israel yang telah berlangsung kurang lebih 3 pekan terakhir ini terus mendapat kecaman dari berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia. Tidak hanya dari negara-negara Arab dan sekitarnya, berbagai negara di Eropa pun telah jelas mengutuk serangan yang telah menewaskan 900 orang lebih dan 3200 orang luka-luka meskipun Dewan Keamanan PPB telah mengeluarkan resolusi untuk melakukan genjatan senjata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ketinggalan, organisasi-organisasi seluruh dunia pun mencoba bersuara, mengutuk keras pembantaian yang telah dilakukan oleh Israel di Perbatasan Gaza, Palestina. Salah satunya adalah IPM Kota Makassar. Organisasi perhimpunan pelajar Muhammadiyah di Kota Makassar ini menyatakan mengutuk keras serangan yang dilakukan oleh Israel terhadap negara yang merupakan tempat lahirnya tiga agama samawi tersebut. “Sebagai organisasi Islam tentunya kami sangat mengecam seluruh aktivitas militer Israel yang telah melakukan pembantaian besar-besaran di perbatasan Gaza, Palestina. Apalagi sebagian besar korbannya adalah warga sipil, yakni anak-anak dan wanita yang tidak berdosa” tegas Wardiyansyah, Ketua Bidang Hikmah dan Advokasi PD IPM Kota Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian, sapaan akrab Wardiyansyah, menambahkan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Israel merupakan tragedi Keynoshida (pembantaian besar-besaran) dalam sejarah peradaban umat manusia di dunia. Untuk itu, perlu ada tindak tegas dari pihak yang berwenang, dalam hal ini PBB, untuk segera menghentikan agresi militer tersebut. “Kami mendesak kepada pemerintah Indonesia untuk dapat meminta kepada DK PBB untuk segera bertindak tegas atas pembantaian yang dilakukan terhadap saudara-saudara kami di Palestina agar korban yang berjatuhan tidak bertambah lagi. Karena belakangan ini kami menilai PBB kehilangan taringnya dalam mencoba mengatasi krisis yang berlangsung diantara kedua negara tersebut” ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aktivis IPM ini juga berharap kepada seluruh negara-negara Arab agar segera melakukan upaya untuk mencoba menengahi pertikaian yang terjadi di Timur Tengah. “Kami berharap negara-negara Arab mampu membuka mata dan berempati atas apa yang tengah dirasakan oleh warga Palestina saat ini serta mencoba mencari solusi untuk segera mengakhiri pembantaian ini. Kepada negara-negara tetangga Palestina, seperti Mesir, kami meminta agar dapat memberikan akses di perbatasan Rafah agar bantuan dapat segera disalurkan” jelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya apa yang telah dilakukan oleh IPM sendiri bagi Palestina, Dian hanya mengatakan bahwa saat ini di kalangan IPM telah berupaya untuk melakukan penggalangan dana di seluruh sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tersebar di Kota Makassar. “Paling tidak apa yang kami lakukan ini merupakan wujud simpati kami dan kami berharap ini mampu memberikan bantuan kepada saudara-saudara kami di Palestina walaupun bentuknya kecil. Kami juga menghimbau kepada seluruh warga IPM untuk dapat mendoakan saudara-saudara kita di Palestina yang mungkin saat ini berhadapan dengan bom-bom yang terus menerus diluncurkan oleh roket-roket Zionis Israel” tutupnya. (aw)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-466828758608627716?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/466828758608627716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/01/ipm-makassar-mengutuk-agresi-israel-ke.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/466828758608627716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/466828758608627716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/01/ipm-makassar-mengutuk-agresi-israel-ke.html' title='IPM Makassar Mengutuk Agresi Israel ke Palestina'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-5592114360361686715</id><published>2009-01-26T07:06:00.000-08:00</published><updated>2009-01-27T06:21:11.150-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Belajar Dari Obama</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SX3cCnlGZNI/AAAAAAAAADs/waiYqz89ncc/s1600-h/obama.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295630674400011474" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 184px; CURSOR: hand; HEIGHT: 227px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SX3cCnlGZNI/AAAAAAAAADs/waiYqz89ncc/s400/obama.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Tanggal 20 Januari lalu akhirnya Amerika Serikat, negeri adidaya itu, memiliki pemimpin baru. Ya, pemimpin itu adalah orang yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya sekaligus sepak terjangnya dalam memimpin negara berpenghuni 303.834.687 orang ini. Dia adalah Barrack Husein Obama. Pemuda yang masih berumur 47 tahun ini menjadi presiden Amerika ke-44 dan menggantikan seniornya yakni George W. Bush. Anak muda Menteng ini juga berhasil mencatat sejarah sebagai presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak faktor penentu kemenangan Barrack Obama dalam memenangkan pemilu presiden awal November lalu. Salah satunya adalah dia berhasil meraih dukungan lewat dunia &lt;em&gt;cyberspace&lt;/em&gt; (dunia maya). Sebuah strategi baru dalam menggaet suara dari pemilih yang sebagian besar merupakan pengguna dari media ini. Barrack Obama membuat situs www.barrackobama.com dan juga membangun citra dirinya lewat situs jejaring sosial, salah satunya adalah Facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari hal tersebut, nampaknya beberapa alternatif media seperti situs pribadi, portal video YouTube, jejaring sosial seperti Facebook, atau pesan layanan singkat memang atau biasa dsebut SMS memang sangat berpengaruh dalam pencitraan kandidat. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut pakar komunikasi Emerson College’s Department of Communication Studies di Boston, AS, Prof Dr J Gregory Payne, media alternatif ini sangat berpengaruh dalam meraih suara dan kelompok yang paling terpengaruh adalah pemilih pemula yang notabene relatif merupakan swingvoters. Payne juga mengatakan bahwa media alternatif yang juga efektif sebagai alat kampanye adalah pesan layanan singkat yang untuk Indonesia sangat cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kampanye Lewat Facebook&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bakal calon presiden Indonesia belakangan ini juga nampaknya sudah tidak mau ketinggalan untuk memanfaatkan media alternatif seperti Facebook. Dalam rangka meraih simpati dari pemilih, para kandidat capres mulai memanfaatkan Facebook sebagai media kampanye mereka. Sehingga, tak ayal jika kita menemukan Facebook dari beberapa kandidat capres ketika kita menulis namanya di fasilitas search. Pengelolaannya tentu saja tidak dilakukan oleh capres tersebut. Tetapi, ada tim kerja yang akan senantiasa memutakhirkan data, menjawab pesan dari kita, atau mengisi dinding (wall). Beberapa dewan legislatif pun banyak yang mencoba peruntungan di Facebook. Mereka senantiasa memutakhirkan informasi di Facebook yang membuatnya seolah-olah memiliki pekerjaan baru, yakni mengelola Facebook. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mari kita tengok bakal capres termuda, Yuddy Chrisnandi, yang meyakini bahwa berinteraksi dengan pendukung lewat Facebook merupakan sebuah kebutuhan. Jusuf Kalla, putra Sulsel yang menjadi capres tertua ini juga tak mau ketinggalan untuk memiliki akun di Facebook. Capres dari PDIP, Megawati Soekarno Putri juga berlomba untuk gabung di Facebook. Bahkan, orang nomor wahid di Indonesia pun, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono melirik fasilitas ini. Wiranto, Amien Rais, Sutiyoso, Sultan Hamengkubuwono X, Prabowo Subianto, Hidayat Nur Wahid, dan Fadjroel Rachman pun tentunya tak mau ketinggalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data di situs internetworldstats.com, memang pengguna internet di AS memang belum bisa dibandingkan dengan pengguna internet di Indonesia. Pengguna internet di AS pada tahun 2008 adalah 72,5 persen dari jumlah penduduknya. Sedangkan pengguna internet di Indonesia, hanya 10,5 persennya dari total penduduk 237.512.355 jiwa yakni sebasar 25 juta orang. Tentunya bukan jumlah yang sedikit untuk meraih suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Media dan Kampanye&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada pelajaran yang sangat berharga menurut saya yang dapat kita ambil dari terpilihnya Obama. Barrack Obama, yang tak pernah terpikirkan oleh banyak orang mampu bersaing di kancah politik AS, berhasil menyedot perhatian masyarakat AS dan bahkan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama berhasil memanfaatkan peranan media dalam mengkonstruk citra tentang dirinya. Dia berhasil meramu tim media yang mampu mendongkrak popularitasnya dalam kurun waktu yang cukup singkat. Obama juga cerdik dalam memainkan isu strategis dan meyakinkan pemilih bahwa dirinyalah yang layak memimpin AS. Kecerdikannya itu ditambah dengan kemahiran berorasi sehingga spontan pemilih seakan terhipnotis ketika mendengarkan pidatonya. Hal inilah yang dimainkan oleh para jurnalis untuk membangun citranya sebagai pemimpin muda, cerdas dan pembawa perubahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Payne mengatakan bahwa media massa maupun media alternatif lainnya sangat memiliki peranan dalam melakukan kampanye. Peranan media ini akan kita lihat saat Indonesia sebagai negara demokrasi ketiga di dunia melakukan Pemilu, April mendatang. Payne mengakui, media alternatif berbasis internet belum tentu berhasil di Indonesia karena sebagian besar rakyat Indonesia belum melek internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, menurutnya, ada media alternatif lain, yaitu pesan layanan singkat. Pesan layanan singkat pernah membalik sejarah politik dan hasil kampanye di Spanyol. Hanya karena seorang kandidat salah mengomentari bom Madrid, dalam dua hari terakhir, opini publik berpaling dari kandidat itu. Indonesia adalah negara pengguna pesan layanan singkat terbesar di Asia Tenggara setelah Filipina dan peluang ini sangat efektif digunakan dalam menarik simpati di Pemilu mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KPU telah menentukan jadwal pilpres yang akan dihelat Juli mendatang. Itu artinya masih tersisa sekitar enam bulan lagi waktu kita untuk menganalisa dan memikirkan pemimpin yang akan mengawal negeri ini lima tahun ke depan dan jendela di dunia cyberspace menjadi salah satu pisau analisis kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-5592114360361686715?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/5592114360361686715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/01/belajar-dari-obama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/5592114360361686715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/5592114360361686715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2009/01/belajar-dari-obama.html' title='Belajar Dari Obama'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SX3cCnlGZNI/AAAAAAAAADs/waiYqz89ncc/s72-c/obama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-4898559196474405551</id><published>2008-12-26T04:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T05:02:01.941-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='afirmasi'/><title type='text'>Menggenggam Dunia Lewat Membaca</title><content type='html'>&lt;div&gt;Sungguh agung ayat al-Quran yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad Saw: Iqra’, bacalah. Sepintas, ironi muncul saat itu, mengingat Nabi dikenal sebagai ummi, tidak mampu membaca dan menulis. Lewat penjelasan Jibril dan interpretasi banyak ulama kemudian setidaknya kita bisa mengambil dua hal: pertama, membaca tidak harus bermakna denotatif, mengeja huruf demi huruf. Membaca bisa juga memandang, mempelajari, memahami, menghayati realitas. Kedua, membaca adalah titik yang paling dasar dari tradisi keilmuan manusia. Islam me&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SVTS3THLu3I/AAAAAAAAADM/TY8I1-hg_zc/s1600-h/bola+dunia.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284080110277475186" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 206px; CURSOR: hand; HEIGHT: 190px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SVTS3THLu3I/AAAAAAAAADM/TY8I1-hg_zc/s400/bola+dunia.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ngangkat tinggi tradisi keilmuan yang merupakan perangkat dasar kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan manusia. Tanpa “membaca”, manusia akan mengalami stagnasi yang memprihatinkan dan kejumudan berpikir. Tulisan ini mencoba mengelaborasi makna kedua ini dalam konteks Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tulisan dan buku ditemukan, dimulailah tradisi baru yang mengubah seratus delapan puluh derajat peradaban manusia. Informasi, petuah, pelajaran, yang tadinya hanya disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut, menjadi sesuatu yang bisa diakses kapanpun di manapun, tanpa reduksi kealpaan daya ingat informan. Ribuan tahun perjalanan sejarah tidak banyak kita ketahui karena tak tertulis.Tak salah jika Louis L’Amour, pengarang terkenal keturunan Prancis, menyatakan bahwa buku adalah kemenangan terbesar yang diraih manusia. Melalui buku itulah ilmu pengetahuan dapat ditularkan ke segenap penjuru dunia. Dalam peradaban modern sekarang, buku kemudian berubah wujud menjadi lembaran-lembaran koran, disket komputer, serta compact disc.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini kita patut prihatin melihat kondisi Indonesia. Tradisi buku dan membaca belum terlalu mapan di kalangan masyarakat, namun kita sudah harus menerima tradisi lanjutannya, teknologi informasi dan dunia audio visual dengan ditemukannya televisi. Seketika, dunia hiburan merajai tren budaya kita, sementara buku dan tulisan dengan segera juga ditinggalkan. Jadilah kita mengalami apa yang disebut sebagai “lompatan budaya”. Apalagi ketika dunia internet saat ini sudah menjadi bagian dari keseharian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah data yang dirilis Kompas (25 Juli 2002), bahwa hanya sekitar satu persen SD Negeri di Tanah Air yang jumlahnya sekitar 260.000, yang memiliki perpustakaan. Itupun dengan kondisi yang masih patut dipertanyakan. Kadang malah justru perpustakaan di sekolah-sekolah lebih mirip gudang buku; tanpa administrasi yang memadai, ruang baca yang layak, dan persediaan buku yang seadanya. Bandingkan dengan sekolah-sekolah di luar negeri, yang menjadikan ruang perpustakaan sebagai prasyarat utama pendirian sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar perbandingan lain, ketika merumuskan konstruksi rumah, tidak terpikirkan oleh orang Indonesia untuk memberi porsi khusus untuk ruang baca, bahkan untuk lemari buku sekalipun. Tentu saja kecuali rumah dosen, peneliti, dan kalangan lain yang berhubungan langsung dengan dunia buku dan intelektual. Di negeri-negeri maju, kesadaran membaca sangat terimplementasi ketika mereka memilih sekoalah, membangun rumah, dan bahkan ketika mereka berekreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang membuat tradisi membaca dan tradisi buku kita jauh terbelakang, bahkan kalah jauh di bawah Malaysia, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sistem pendidikan nasional kita yang juga berantakan, tidak melatih tradisi pemikiran dan tidak berorientasi menstimulasi kecerdasan dan kecenderungan siswa berdasarkan potensi dan minatnya. Kritik dan cacian terhadap sistem pendidikan yang sangat terbelakang ini toh tidak menjadikan pemerintah kita memberi perhatian lebih. Peran ini direbut oleh swasta dan bahkan lembaga pendidikan asing yang sudah menjamur di kota-kota besar. Tidak heran kemudian banyak bertebaran sekolah-sekolah unggulan berharga ratusan juta. Konsekuensinya, sekolah “bagus” hanya dapat dinikmati oleh anak-anak orang berduit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, rendahnya minat dan daya beli masyarakat terhadap buku. Di sisi lain, penghargaan terhadap karya intelektual seseorang juga sangat rendah. Pada akhirnya, industri buku hanya menguntungkan distributor dan toko buku. Bayangkan jika seorang pengarang sekaliber Pramoedya Ananta Toer, yang bukunya selalu menjadi best seller, hanya mendapatkan royalti sebesar 15 % (dan ini tergolong royalti terbesar). Selebihnya adalah keuntungan penerbit dan toko buku. Sementara, jangankan berharap dari subsidi untuk penerbitan buku dari pemerintah, yang ada malah banyak penerbit mengeluhkan pajak penerbitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi jika kita lihat kesenjangan antara kota besar di Indonesia dengan daerah-daerah lain. Munculnya sekolah-sekolah unggulan dengan fasilitas perpustakaan yang memadai cuma ada di Jakarta dan beberapa kota besar. Begitu juga dengan media massa, dari 300-an media massa yang ada, 60% lebih terkonsentrasi di Jakarta. 40% lainnya tersebar di seluruh wilayah lain di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dominan kemudian adalah dunia hiburan, entertainment, yang relatif diterima di seluruh pelosok lewat saluran televisi. Dalam sebuah seminar, Prof. Dr. Fuad Hasan, mantan Mendiknas Indonesia, juga mensinyalir kecenderungan menurunnya budaya baca sebagai akibat pengaruh audio-visual dari benda ajaib yang disebut sebagai pesawat televisi. ‘’Benda ajaib itu menjadi saingan terberat bagi kegiatan membaca masyarakat. Mereka menjadi semakin malas membaca karena anggapan sudah cukup hanya dengan mendengarkan berbagai informasi dari media audio-visual tersebut,” ungkapnya lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran teknologi internet yang memungkinkan informasi diakses pada saat terjadi, meski berjarak ribuan kilometer, pun tidak banyak membantu tradisi membaca di Indonesia. Hanya sedikit kalangan yang pada dasarnya memang kuat tradisi membacanya, yang memanfaatkan internet sebagai “media informasi”, sementara kebanyakan lainnya menggunakan internet sebagai media hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi Indonesia semacam itu, akankah kita percaya bahwa membaca adalah tradisi yang diprovokasi al-Quran sejak pertama kali turun? Akankah kita bisa meyakinkan dunia bahwa Indonesia bukan negeri kebodohan? Entah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-4898559196474405551?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/4898559196474405551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/12/menggenggam-dunia-lewat-membaca.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4898559196474405551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4898559196474405551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/12/menggenggam-dunia-lewat-membaca.html' title='Menggenggam Dunia Lewat Membaca'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SVTS3THLu3I/AAAAAAAAADM/TY8I1-hg_zc/s72-c/bola+dunia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-1273881948638245396</id><published>2008-12-23T06:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T07:24:18.202-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Pemerintah Tak Lagi Peduli Pendidikan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SVECiagvnbI/AAAAAAAAADE/KCL0FXG7aug/s1600-h/demo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283006628137770418" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 124px; CURSOR: hand; HEIGHT: 93px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SVECiagvnbI/AAAAAAAAADE/KCL0FXG7aug/s400/demo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah seminggu belakangan ini, media ramai menyajikan berita tentang demo besar-besar mahasiswa dalam rangka menolak RUU BHP yang telah disahkan oleh DPR baru-baru ini. Hampir di seluruh pelosok negeri diwarnai dengan aksi penolakan terhadap UU BHP. Mahasiswa seakan-akan marah akibat ulah pemerintah yang lagu-lagi dinilai sangat m&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SVD_eC3erkI/AAAAAAAAAC0/qe1PP9R_xtE/s1600-h/demo.jpg"&gt;&lt;/a&gt;enyengsarakan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, mahasiswa sebagai bagian yang akan merasakan akibat dari hadirnya undang-undang ini tidak akan tinggal diam. Mereka pun langsung hadir di garda depan menyuarakan penolakan terhadap UU ini. Demo besar-besaran pun tumbuh bak jamur di musim hujan. Mulai dari Sabang hingga Merauke, termasuk di Makassar, mahasiswa beramai-ramai mendatangi gedung wakil rakyat yang dinilai paling bertanggung jawab atas hal ini. &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, menurut mereka dengan lahirnya UU BHP ini akan lebih memberikan lampu hijau kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengkomersialisasikan pendidikan. Sehingga, segala cara dapat dilakukan untuk meraup keuntungan dari mahasiswa dan akhirnya mahasiswa dijadikan komoditi dan tak mampu lagi mengakses pendidikan, terutama bagi mahasiswa yang termarginalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, menurut saya, langkah ini adalah sebuah ketidakpedulian pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan. Saya menilai, kebijakan pemerintah untuk memberikan peluang seluas-luasnya kepada pihak kampus merupakan sebuah tindakan lepas tangan dari tanggung jawab. Padahal seperti yang tertuang di UUD 1945 yang kita tahu bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk memajukan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo pemerintah mencoba mengajukan apologi bahwa hal ini untuk memicu kreativitas pihak kampus dalam proses mencari dana pendidikan, saya rasa itu cuman justifikasi. Malah menurut saya, dengan hal ini pihak kampus akan semena-mena menggunakan kekuasaannya dalam memanajemen kampus termasuk persoalan keuangan. Sehingga, mahasiswa bisa saja dijadikan komoditas untuk meraup keuntungan dan akhirnya lagi-lagi mahasiswa menjadi korban dari semua skenario pemerintah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dengan lirik lagu bang Haji Rhoma Irama yang bunyinya kayak gini "yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin". Usulan saya kita tambah lagi lirik itu dengan kata bodoh jadi "yang miskin makin bodoh". Tapi, itupun kalo Rhoma Irama mau. Sudahlah.. Nampaknya ke depan hal ini akan terjadi di dunia pendidikan kita walaupun itu sudah terjadi hari ini sich.. Ya.. kita tunggu saja apa sikap pemerintah dalam merespon hal ini. Semoga aja mereka yang di gedong DPR sana bisa menjadi penyambung lidah aspirasi rakyat dan merasakan penderitaan orang miskin. Meskipun mereka tak pernah mau merasakannya. Yang jelas, kepada mahasiswa mari kita bersama-sama menolak segala bentuk penindasan, penjajahan, pembodohan dan ketidakadilan. Hidup Mahasiswa..!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-1273881948638245396?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/1273881948638245396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/12/pemerintah-tak-peduli-lagi-pendidikan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/1273881948638245396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/1273881948638245396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/12/pemerintah-tak-peduli-lagi-pendidikan.html' title='Pemerintah Tak Lagi Peduli Pendidikan'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/SVECiagvnbI/AAAAAAAAADE/KCL0FXG7aug/s72-c/demo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-2301930134021918102</id><published>2008-12-19T04:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T05:04:23.113-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='info'/><title type='text'>Brilliant Class BPK Penabur dan Surya Institute</title><content type='html'>BPK PENABUR bekerjasama dengan Surya Institute (Yayasan Prof. Yohanes Surya) mengajak siswa SMP Kelas 9 dengan prestasi dan kemampuan akademis sangat istimewa untuk dipersiapkan dengan suatu kurikulum khusus sains tingkat universitas dengan pendampingan spiritual, psikologis dan sosial yang utuh agar akhirnya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi terbaik di dunia demi ikut membangun ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia tercinta di masa depan....!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Pendaftaran&lt;br /&gt;Siswa/i SMP kelas 3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Memiliki nilai rata-rata Matematika, IPA, Bahasa Inggris semester&lt;br /&gt;I-IV = 9.0, atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Meraih medali perak/emas OSN atau Penghargaan di Olimpiade&lt;br /&gt;Matematika/Sains Internasional, atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Memiliki hasil Tes IQ &gt;= 145 (Very Superior), atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Memiliki rekomendasi dari kepala sekolah SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES SELEKSI&lt;br /&gt;Kirimkan segera:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Curriculum Vitae lengkap, dengan No. HP/Telp. &amp;amp; email (format CV&lt;br /&gt;lihat disini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Rapor SMP Semester I-IV yang telah dilegalisir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Fotokopi Sertifikat Pemegang Medali OSN/Olimpiade Matematika/Sains&lt;br /&gt;Internasional (jikalau ada)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Rekomendasi Guru Matematika/Sains&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Rekomendasi kepala sekolah/ Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Provinsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Hasil IQ tes terakhir (jikalau ada)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke alamat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat: Jl. Tanjung Duren Raya No.4, Jakarta 11470&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email: brilliant[at] bpkpenabur. or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi lebih lanjut: www.bpkpenabur. or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon: 021 5666 965 - 66 ext 510-515&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telephone: 021 5666 965 - 66 ext 510-515, 021 5633828 or SMAK Gading&lt;br /&gt;Serpong: 021 54205137, 021 5469695&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi calon yang memenuhi persyaratan akan diundang untuk mengikuti&lt;br /&gt;seleksi lebih lanjut. Waktu dan tempat seleksi akan diberitahukan&lt;br /&gt;kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROFIL LULUSAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan moto BPK PENABUR yaitu Iman, Ilmu dan Pelayanan,&lt;br /&gt;moto tersebut menjadi landasan profil lulusan kelas khusus ini, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Academic excellence&lt;br /&gt;Lulusan berhasil diterima di universitas terkenal di dunia dan unggul&lt;br /&gt;dalam persaingan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Biblical characters&lt;br /&gt;Lulusan mengerti, mengalami dan mencintai transforming characters yang&lt;br /&gt;akan mengubah dirinya sendiri dan dapat mempengaruhi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Community builder&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Lulusan memiliki kecakapan hidup untuk menopang dirinya menjadi&lt;br /&gt;pembaharu yang efektif dan selalu berpikir positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Lulusan peka dan peduli terhadap lingkungan masyarakat, menjadi&lt;br /&gt;pelaku nyata "garam dan terang dunia"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum Akademik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal kurikulum, BPK PENABUR Jakarta bekerja sama dengan&lt;br /&gt;Prof. Yohanes Surya, Ph.D. (Surya Institute). Surya Institute&lt;br /&gt;bertindak sebagai perancang kurikulum/konsultan untuk bidang sains,&lt;br /&gt;sedangkan kurikulum non sains dibuat oleh tim dari BPK PENABUR Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELAS SAINS (36 dari 51 jam) NON-SAINS (15 dari 51 jam)&lt;br /&gt;10 Semua materi pelajaran SMA (Kurikulum Nasional) diselesaikan dalam&lt;br /&gt;1 tahun (dipilih materi esensial). Bahasa Inggris, Penjaskes,&lt;br /&gt;Pendidikan Agama Kristen, Character Building, Kesenian, Teknologi&lt;br /&gt;Informasi (ICT), Bahasa Indonesia, PPKN dan Sejarah&lt;br /&gt;11 Materi pelajaran setara dengan jenjang S1 dan materi Olimpiade&lt;br /&gt;Internasional (untuk mata pelajaran sains tertentu), materi ujian&lt;br /&gt;Nasional dan Cambridge. Bahasa Inggris, Penjaskes, Pendidikan Agama&lt;br /&gt;Kristen, Kesenian, Sosiologi, Ekonomi, Kepemimpinan.&lt;br /&gt;12 Materi pelajaran S2 dan materi Olimpiade Internasional (untuk mata&lt;br /&gt;pelajaran sains tertentu), materi ujian Nasional dan Cambridge.&lt;br /&gt;Bahasa Inggris, Penjaskes, Pendidikan Agama Kristen, Christian&lt;br /&gt;Education, Bahasa asing lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Notes: Siswa dipersiapkan untuk mengambil ujian nasional dan Cambridge&lt;br /&gt;dengan konsentrasi pada IPA, Matematika (Cambridge A Level) dan Bahasa&lt;br /&gt;Inggris (IGCSE EFL).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendampingan Psikologis dan Formasi Spiritualitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat program pembelajaran berlangsung dengan sangat&lt;br /&gt;intensif seperti yang disebutkan di atas, maka pendampingan psikologis&lt;br /&gt;dan kerohanian yang efektif sangat diperlukan. Untuk itu disediakan&lt;br /&gt;psikolog dan rohaniwan yang akan menjalankan program pembimbingan&lt;br /&gt;secara individual. Selain itu disediakan juga bapak dan ibu asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan Fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan kesehatan akan dilakukan secara periodik oleh&lt;br /&gt;dokter sekolah. Guru Penjaskes juga akan menerapkan latihan fisik yang&lt;br /&gt;akan menciptakan kebugaran fisik siswa yang prima. Kebutuhan makanan&lt;br /&gt;yang bergizi akan diatur dalam asrama tempat tinggal siswa BRILLIANT&lt;br /&gt;Class ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan Kehidupan Sosial dan Wawasan Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan keterampilan dalam pergaulan sosial sebaya,&lt;br /&gt;dalam beberapa kegiatan dan mata pelajaran tertentu siswa BRILLIANT&lt;br /&gt;Class juga akan bergabung dengan siswa kelas reguler yang lain. Untuk&lt;br /&gt;memperluas wawasan dan sosialisasi lingkungan juga akan dilakukan&lt;br /&gt;kunjungan ke lokasi-lokasi/ institusi yang berguna untuk siswa pada&lt;br /&gt;waktu-waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SDM dan Sarana Prasarana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Daya Manusia Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah guru sebanyak 20 (beberapa bidang studi diajar 2 orang)&lt;br /&gt;orang yang mengajar mata pelajaran sebagai berikut: Matematika,&lt;br /&gt;Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Inggris, Bahasa Asing, Bahasa&lt;br /&gt;Indonesia, PAK (Pelajaran Agama Kristen), PPKN, Sejarah, Penjaskes,&lt;br /&gt;Kepemimpinan, Kesenian, Sosiologi dan Ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-guru berkualitas dengan latar belakang akademis S2 atau&lt;br /&gt;S3. Mereka, khususnya guru Matematika dan IPA akan direkrut langsung&lt;br /&gt;oleh Prof. Yohanes Surya Ph. D. Sedangkan untuk guru-guru non IPA&lt;br /&gt;direkrut dari guru-guru terbaik BPK PENABUR yang berpengalaman dan&lt;br /&gt;kompeten dalam bidangnya dengan satu guru native.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana Prasarana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Asrama putra dan putri untuk tempat tinggal siswa (hotspot).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ruang belajar yang didesain untuk kelas kecil dengan kapasitas 20 -&lt;br /&gt;24 siswa per kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Laptop untuk setiap siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perpustakaan dilengkapi komputer multimedia dan akses internet&lt;br /&gt;(hotspot).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ruang musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Lapangan olah raga yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ruang laboratorium Fisika, Kimia, Biologi, Komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi sekolah dan asrama siswa di Perumahan Gading Serpong,&lt;br /&gt;Tangerang hanya 20 km dari Jakarta. Pemilihan lokasi berdasarkan&lt;br /&gt;pertimbangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Situasi kawasan/lingkungan yang kondusif bagi proses belajar-mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dekat dengan lembaga pendidikan atau penelitian yang mendukung&lt;br /&gt;proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Sponsor dan Beasiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya yang diperlukan siswa untuk mengikuti program ini&lt;br /&gt;meliputi uang sekolah, biaya akomodasi (asrama), uang saku, biaya&lt;br /&gt;transport (pulang pergi ke daerah asal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi siswa yang memenuhi kualifikasi yang telah ditetapkan&lt;br /&gt;namun tidak memiliki dukungan dana yang cukup dari orang tua atau&lt;br /&gt;pihak-pihak yang lain akan disediakan beasiswa sesuai dengan kebutuhan&lt;br /&gt;masing-masing siswa. Besar dan persyaratan beasiswa yang akan&lt;br /&gt;diberikan akan diberitahukan kepada siswa dan orang tua/wali pada saat&lt;br /&gt;wawancara akhir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-2301930134021918102?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/2301930134021918102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/12/bpk-penabur-bekerjasama-dengan-surya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/2301930134021918102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/2301930134021918102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/12/bpk-penabur-bekerjasama-dengan-surya.html' title='Brilliant Class BPK Penabur dan Surya Institute'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-1860281110932457470</id><published>2008-12-19T04:28:00.002-08:00</published><updated>2008-12-26T05:04:45.319-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='info'/><title type='text'>Pertukaran Pemuda Muslim Indonesia-Australia</title><content type='html'>Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Australia-Indonesia Institute bekerjasama dengan Universitas Paramadina&lt;br /&gt;menyelenggarakan program spesial, Pertukaran Tokoh Muslim Muda antara&lt;br /&gt;Indonesia dan Australia, dimana tokoh/aktivis muslim muda dari Indonesia&lt;br /&gt;akan mengunjungi Australia selama 2 minggu dan bertemu baik Muslim maupun&lt;br /&gt;non-Muslim untuk bertukar pikiran dan berbagi pengalaman. Sebaliknya tokoh&lt;br /&gt;muslim muda Australia juga mengunjungi Indonesia dalam program yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program pertukaran ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman terutama&lt;br /&gt;mengenai peran agama di masing-masing negara. Program ini juga ditujukan&lt;br /&gt;untuk meningkatkan pemahaman terhadap Islam di kedua negara dan untuk meningkatkan kesadaran mengenai keanekaragaman budaya di Australia maupun Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat pendaftaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria dan Wanita berusia di bawah 40 tahun.&lt;br /&gt;Menyerahkan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau Paspor.&lt;br /&gt;Lancar berbicara bahasa Inggris dengan melampirkan salinan nilai&lt;br /&gt;score&lt;br /&gt;TOEFL (international atau institusional) minimal 450.&lt;br /&gt;Menyertakan surat rekomendasi dari organisasi yang menjelaskan&lt;br /&gt;kedudukan pelamar dalam organisasi tersebut.&lt;br /&gt;Melampirkan surat pernyataan singkat berisi:&lt;br /&gt;apa yang dapat diberikan pelamar pada program tersebut selama dan&lt;br /&gt;sesudah kunjungan,&lt;br /&gt;peran dari pelamar dalam organisasi dan alasan mengapa tertarik pada&lt;br /&gt;program ini,&lt;br /&gt;bagaimana pelamar akan membagi pengalamannya selama dan sesudah&lt;br /&gt;program.&lt;br /&gt;Surat pernyataan ini tidak boleh melebihi 2 halaman.&lt;br /&gt;Melampirkan Curriculum Vitae terbaru (tanpa perlu melampirkan seluruh&lt;br /&gt;salinan sertifikat atau dokumen yang dimiliki).&lt;br /&gt;Membuat surat keterangan yang mencantumkan:&lt;br /&gt;nama organisasi atau orang yang ingin ditemui di Australia.&lt;br /&gt;hobby dan kebiasaan di waktu luang.&lt;br /&gt;tanggal terakhir perjalanan ke Australia, jika ada.&lt;br /&gt;tanggal keberangkatan ke Australia, jika terpilih.&lt;br /&gt;alamat, fax atau nomor telephone yang dapat dihubungi.&lt;br /&gt;Pasphoto 3 x 4 cm sebanyak 2 lembar.&lt;br /&gt;Salinan Akte Kelahiran.&lt;br /&gt;Melampirkan Surat rekomendasi sebanyak 2 buah dari 2 orang yang&lt;br /&gt;menyatakan mengapa pelamar adalah kandidat yang tepat untuk mengikuti&lt;br /&gt;program ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon pelamar disarankan untuk hanya mengirimkan persyaratan yang&lt;br /&gt;disebutkan di atas.&lt;br /&gt;Lamaran dapat dikirim ke:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda&lt;br /&gt;Indonesia-Australia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universitas Paramadina&lt;br /&gt;Jl. Gatot Subroto Kav. 97&lt;br /&gt;Mampang, Jakarta Selatan 12790&lt;br /&gt;Tel: 62 21 7918 1188&lt;br /&gt;Fax: 62 21 799 33 75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas akhir pengiriman lamaran: Jum'at, 9 Januari 2009 pukul 16.00&lt;br /&gt;WIB.&lt;br /&gt;Informasi lebih lanjut hanya dapat ditujukan melalui email kepada:&lt;br /&gt;phanggarini@ yahoo.com. au&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-1860281110932457470?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/1860281110932457470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/12/pertukaran-pemuda-muslim-indonesia_19.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/1860281110932457470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/1860281110932457470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/12/pertukaran-pemuda-muslim-indonesia_19.html' title='Pertukaran Pemuda Muslim Indonesia-Australia'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-9072418585613489219</id><published>2008-12-19T03:02:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T05:05:36.876-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Media Internet Merenggut Kemanusiaan Kita</title><content type='html'>Dalam konteks global dan kekinian, dialektika sejarah membuktikan bahwa hegemoni kapitalisme media (komunikasi dan informasi) sudah sedemikian menggurita. Melalui jaringan komputer global -yang lebih populer dikenal dengan internet- ideologi (kapitalisme) pasar media telah merembet ke dalam sisi-sisi paling subtil masyarakat seluruh dunia. Bahkan dalam usaha merayakan kemenangan besar teknologi maya sebagai konsumsi masyarakat di abad informasi dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebuah trend budaya baru yang menggeser definisi lama kita tentang realitas, identitas, komunitas dan ruang tempat tinggal kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-9072418585613489219?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/9072418585613489219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/12/media-internet-merenggut-kemanusiaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/9072418585613489219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/9072418585613489219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/12/media-internet-merenggut-kemanusiaan.html' title='Media Internet Merenggut Kemanusiaan Kita'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-4737210297597361398</id><published>2008-11-15T07:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T05:06:07.447-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='edukasi'/><title type='text'>Apa sich Pemanasan Global itu?</title><content type='html'>Mungkin belakangan ini kita sering mendengar di mana-mana tentang pemanasan global atau akrab dengan sebutan "&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;global warming&lt;/span&gt;". Ya, betapa tidak global warming ini telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan makhluk hidup di bumi. So, apa &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;sich &lt;/span&gt;Pemanasan Global itu? Yuk, kita cari tahu bareng...&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu dikarenakan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-4737210297597361398?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/4737210297597361398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/apa-sich-pemanasan-global-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4737210297597361398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4737210297597361398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/apa-sich-pemanasan-global-itu.html' title='Apa sich Pemanasan Global itu?'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-4748696080497920627</id><published>2008-11-15T07:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T05:07:10.671-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Islam dan Budaya Lokal</title><content type='html'>Sejauh ini Islam di Indonesia dinilai lebih toleran terhadap budaya. Toleransi tersebut ditunjukkan dengan adanya sikap akomodatif terhadap budaya lokal. Sikap itu mencerminkan adanya kemampuan dan kemauan Muslim Indonesia untuk menyerap budaya lokal menjadi bagian dari ajaran Islam. Budaya dipandang sebagai bagian yang inheren dengan kehidupan masyarakat, sehingga tidak memungkinkan bagi sebuah gerakan yang membawa nafas rahmatan lil’alamin memberangus sesuatu yang sudah menjadi bagian dari masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Kritik dan Afirmasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensinya, keislaman di Indonesia berbeda dengan mainstream yang berkembang di “pusat” pertumbuhan Islam. Mistisisme yang sebagian besar merupakan musuh gerakan Islam di Haramain (Mekah dan Madinah), di Indonesia justru menyatu dengan tradisi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi semacam ini memang menimbulkan banyak kesalahpahaman. Bagi sebagian pengamat, Indonesia dikategorikan sebagai “Islam yang jelek”. Kategori ini mendorong Nikki Keddie untuk meneliti sejauhmana perbedaan Islam yang berkembang di Timur Tengah dengan di Asia Tenggara (Indonesia). Penelitian Keddie menemukan bahwa pada dasarnya Islam yang berkembang di Timur Tengah tidak semuanya anti terhadap budaya lokal (budaya mistik). Di Kairo dan beberapa tempat lain didapatkan gejala yang serupa dengan di Asia Tenggara (2000). Berarti Islam yang bercampur dengan budaya lokal tidak khas Indonesia, dan tidak menunjukkan sebagai Islam yang jelek. Dalam konteks tradisi Islam dalam kekhilafahan Fatimiah di Mesir (abad ke-3/4 M), mistisisme—sebagaimana di Indonesia—juga berkembang luas. Padahal saat itu umat Islam sedang berada pada masa keemasan peradaban.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Islam yang bercampur dengan budaya lokal adalah gejala normal dari dinamika umat Islam. Pergumulan dan interaksi umat Islam dengan beraneka macam budaya akan mengondisikan munculnya karakter yang lebih akomodatif. Sebaliknya, semakin minim interaksi umat Islam dengan kebudayaan lokal, akan semakin miskin apresiasinya terhadap budaya lokal. Oleh penentangnya, budaya lokal dianggap sebagai sesuatu diluar Islam, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai transenden. Budaya adalah karya manusia, sedangkan Islam adalah karya Tuhan. Jadi penolakan terhadap budaya lokal disebabkan oleh pendasaran agama pada sesuatu yang transenden secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika diteliti lebih jauh, kandungan Al-Quran sendiri menggambarkan adanya akomodasi terhadap budaya lokal (Arab). Respon Al-Quran bermuara pada dua kemungkinan, yakni mengkritik atau mengonfirmasi budaya lokal tersebut. Kritik dilakukan sepanjang budaya tersebut menistakan kehormatan manusia. Sedangkan konfirmasi diberikan kepada budaya yang sejalan dengan cita-cita kemanusiaan. Dalam hal ini Imam Syatibi merumuskannya secara sistematis dalam maqoshid al-syari’ah (tujuan syari’at), diantaranta: pertama, menjaga dan memelihara kepentingan dan kemaslahatan manusia, dan kedua, syari’at agama diberlakukan untuk dipahami dan dihayati manusia. Jadi, relasi agama dan budaya terjadi dalam bentuk kritik dan afirmasi. Tidak semua budaya ditolak lantaran berasal dari kreasi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Prinsip Kausalitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Islam dibangun dengan prinsip-prinsip kausalitas: senantiasa terdapat pola sebab akibat yang dapat diteliti oleh manusia, sehingga otoritas agama tidak diserahkan kepada al-Quran secara pasif. Pernyataan senada diungkapkan oleh Ali r.a. bahwa teks al-Quran tidak bisa “berbicara”, manusialah yang membuatnya “berbicara”. Jadi, prinsip-prinsip kausalitas itulah yang menjadi pedoman dalam menghayati semangat ajaran agama. Otoritas itu tidak diletakkan secara ekstrim pada manusia semata, melainkan pada kemampuan memahami tujuan syariat. Produk pengetahuan manusia itu pun memang bersifat relatif, sebagaimana relatifnya kemampuan manusia sendiri dalam memahami pola sebab akibat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak dapat dipungkiri adanya kontestasi di masa penyebaran Islam di Indonesia (abad ke-14 M) antara pedagang dan pendakwah Muslim di satu sisi, dengan elit-elit lokal di lain sisi. Sikap akomodatif Islam terhadap budaya menggambarkan adanya pengaruh elit-elit lokal yang cukup kuat. Budaya lokal umumnya terkait dengan legitimasi terhadap kekuasaan penguasa lokal. Karena itu semakin kuat pengaruh penguasa lokal, akan semakin besar kemungkinan sikap akomodatif Islam terhadap budaya lokal. Kecenderungan ini masih dinilai normal, dalam arti sejalan dengan ajaran Islam, sepanjang budaya lokal tersebut tidak menistakan nilai-nilai kemanusiaan. Kiprah Wali Songo dalam islamisasi masyarakat di Nusantara mencerminkan sikap akomodatif yang berlandas pada maqoshid al-syari’ah. Budaya lokal diadopsi sebagai instrumen untuk “membungkus” isi Islam, dan dijadikan sebagai bagian dari ajaran Islam sepanjang itu sesuai dengan semangat memuliakan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentalnya warna Islam lokal di Indonesia menggambarkan pula kualitas Islam itu sendiri. Islam tidak diturunkan untuk “memaksa” manusia menyembah Tuhan, melainkan untuk kebaikan manusia itu sendiri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-4748696080497920627?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/4748696080497920627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/islam-dan-budaya-lokal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4748696080497920627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4748696080497920627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/islam-dan-budaya-lokal.html' title='Islam dan Budaya Lokal'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-3350522288074840545</id><published>2008-11-15T07:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T05:07:40.792-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Budaya Lokal VS Budaya Global</title><content type='html'>Tak dapat dipungkiri bahwa faktor kemajuan peradaban dunia sebagai indikasi kemajuan berfikir umat manusia, tak salah apabila disebut bahwa umat manusia dewasa ini telah diperhadapkan pada situasi yang serba maju, instant dan pola pemikiran yang kritis. Kemajuan peradaban itu banyak mengakibatkan perubahan di segala aspek kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bernegara maupun berbangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak di antara masyarakat itu menerima perubahan peradaban itu sebagai sesuatu yang lumrah sebagai sebuah proses yang harus dijalani, dimaklumi dan kehadirannya senantiasa menimbulkan berbagai perubahan dalam praktiknya. Sehingga memaksa masyarakat budaya, mau tak mau atau sadar atau tidak sadar diperhadapkan pada situasi yang sulit antara menerima perubahan perdaban itu (karena tidak ingin dianggap kolot) atau menolak perubahan itu kendatipun dianggap primitif, konvensional dan ortodoks.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perselisihan atau tepatnya perbedaan pemikiran seperti itu dapat muncul sebagai reaksi terhadap berbagai tindakan yang bagi sebagian orang bergerak seolah-olah meninggalkan kebudayaannya sedang sebagian orang ingin mempertahankannya sebagai sebuah warisan leluhur bersama (common heritage) yang wajib dijaga dan dilestarikan. Fenomena berikutnya adalah diakibatkan oleh mobilitas tanpa limit, dimana manusia tidak lagi dapat begitu saja dihempang dalam mobilitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan saja, andai seseorang ingin bepergian ke tempat lain (negara Lain) maka tak seorangpun yang dapat menghempangnya apabila ia telah menetapkan bahwa ia harus berangkat. Keadaan ini juga mengakibatkan adanya perpaduan (assimilation) di tempat baru dimana ia berpijak, sehingga melahirkan penilaian apa yang diperoleh, diidolakan sebelumnya dengan dimana ia tinggal dan lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian itu dapat saja memicu lahirnya interpretasi bahwa apa yang melekat pada dirinya ketika memutuskan untuk bepergian itu dinilai sebagai sesuatu yang kolot, tradisional dan tertinggal. Ia kemudian mengenakan berbagai atribut yang dianggap sebagai simbolisasi budaya maju seperti kritis, egoisme, dan materialistis. Kondisi lain adalah meningkatnya mobilitas sekolah antara negara dimana juga telah mempengaruhi pengakuan terhadap budaya lokalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan dimana sipelaku diperhadapkan pada situasi dan alternatif yang kritis seperti itu telah menciptakan adanya anggapan bahwa budaya (lokal) tidak mampu menyaingi budaya (global) yang sedang mendunia. Namun demikian, bagi sebahagian orang tidak demikilan, bahwa budaya lokal senantiasa akan bertahan (lestari) apabila sipelaku tidak membiarkan budaya (lokal)-nya itu tidak tertindas, tidak tradisional dan tidak terbelakang apabila terdapat upaya sipelaku memajukan atau melakukan perubahan (innovation) dan penerapan (invention) terhadap apa yang disebut dengan budaya lokalnya itu. Lantas dalam situasi yang demikian ini dimana kemajuan zaman dan pola berfikir manusia tidak lagi dapat dibatasi, serta tingginya faktor komunikasi dan media penyampai, seberapa jauhkah budaya lokal itu dapat bertahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;PERUBAHAN SOSIAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat disangsikan bahwa kemajuan pemikiran manusia yang senantiasa berupaya untuk menghasilkan hal-hal baru dalam hidupnya adalah hal wajar yang dilakukan sebagai makhluk yang berakal. Berangkat dari asumsi bahwa pemikiran manusia akan senantiasa merubah kondisi sosial, maka hal yang demikian itu dapat diterima secara mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya perubahan itu dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup, peradaban (civilzation) dan kesempurnaan hidupnya yang meskipun pada dasarnya akan senantiasa juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi peradaban itu sendiri. Katakanlah, kebiasaan manusia mengkonsumsi (membeli) makanan yang serba instant, tanpa ada upaya untuk membuatnya, akan melemahkan dan memandulkan kreativitas. Belum lagi hal yang serupa itu diterima dan meresap pada diri anak-anak, maka seumur hidupnya akan menjadi pengkonsumsi utama tanpa adanya niat untuk mencoba membuatnya dengan keinginan sendiri. Alhasil, generasi yang muncul berikutnya adalah generasi yang nirkreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan sosial, baik yang direncanakan maupun yang tidak dapat dikategorikan ke dalam hal di atas yang pada intinya adalah pengupayaan ke arah yang lebih baik dengan mencoba mereduksi dampak negatif dari social change itu. Siklusnya dapat dicerna melalui adanya rekayasa sosial (social engineering), rekontruksi sosial (social recontruction). Pada tahap ini akan muncul sikap menerima (receive) ataupun berupaya menolaknya (defence). Kemudian, dalam upaya menghindari bentrok budaya (paling tidak dalam paradigma) pemikiran) maka pada saat itu dibutuhkan agen-agen perubahan (social agent) sebagai media penyampai agenda perubahan itu. Apabila, perubahan itu muncul sebagai yang tidak direncanakan, maka peran itu akan digantikan oleh sosok atau figur yang dapat menjembatani perubahan yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, perubahan yang sedang terjadi dan akan terjadi, maupun yang direncanakan ataupun tidak (kurang) direncanakan tidak akan mengalami benturan kebudayaan (peradaban) pada masyarakat kekinian. Justru dengan demikian, yang tengah terjadi adalah pemerkayaan khasanah kebudayaan dan bukan pergeseran. Dengan begitu, hipotesa kebudayaan selanjutnya adalah bahwa tidak akan pernah terjadi pergeseran kebudayaan apalagi upaya meninggalkan budaya lokal itu yang meskipun pada tataran performa seolah-olah kebudayaan itu telah bergeser atau ditinggalkan. Perubahan yang demikian itu justru harus dimaknai sebagai upaya pemberdayaan dan pemerkayaan kebudayaan itu sendiri sebagai system makna (system of meaning).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;TREND GLOBAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang tak dapat dielak dan dipungkiri bahwa pola kehidupan manusia pada saat ini adalah bahwa manusia kini diperhadapkan pada situasi yang ambigu. Menolak dan menerima perubahan sosial sebagai dampak kemajuan. Opsi untuk menolak dihantui oleh resistensi dari dalam diri pribadi dan lingkungan yang secara phisikologis akan turut mempengaruhi penolakan itu. Yaitu adanya ketakutan terhadap anggapan sebagai person yang primitif, tradisional dan konvensional. Sementara untuk menerima perubahan itu juga menimbulkan benturan psikologis dimana seseorang pelaku itu dicap sebagai orang yang kurang (tidak) menghargai kebudayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirkumstansi yang demikian itu adalah opsi yang begitu sulit untuk dapat diterima, paroksi psikologis menjadi hambatan utama antara opsi menerima dan menolak. Akan tetapi, kecenderungan yang terjadi adalah bahwa perubahan itu adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat dibatasi apalagi dihempang. Justru, kepiawaian kita dalam menerjemahkan perubahan itu ke dalam diri kita sendiri, meresap dalam diri kita, kemudian akan memancarkan aura perubahan terhadap sikap dan prilaku kita. Dengan begitu, apakah hal yang demikian itu juga disebut telah merubah kebudayaan? Tentu jawabnya adalah tidak. Perubahan yang terjadi dewasa ini adalah kewajiban yang harus diterima, dan oleh sebab itu maka yang terjadi di seputar perubahan itu adalah trend ataupun kecenderungan yang senantiasa dimaknai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan yang justru dihadapi adalah sampai seberapa jauh kita mampu memadukan perubahan dengan kebudayaan itu? Namun demikian, maksud utamanya adalah bukan dengan menolak kebudayaan global yang sedang mendunia. Di sini dibutuhkan pemahaman dan pengertian kita untuk menerjemahkan perubahan itu sehingga tidak menimbulkan distorsi bagi kepribadian dan kebudayaan yang menggejala. Kekuatannya justru terletak pada diri kita sendiri bahwa apa yang akan kita ambil dan maknai dari perubahan itu, dan seberapa mampukah kita menerjemahkannya ke dalam kebudayaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah seorang Batak yang modern adalah orang yang tidak (lagi) menggunakan budaya Batak itu dalam kehidupannya sehari-hari? Apakah orang Batak akan dikenal sebagai orang yang tidak maju apabila atribut Habatahon masih menempel pada dirinya? Lantas bagaimana pula kebudayaan yang lahir akibat perpaduan dua unsur budaya suku yang berbeda akibat adanya kawin campur, misalnya orang Simalungun dengan Jawa? Keutamaan dari pola seperti ini adalah adanya pemerkayaan budaya lokal itu sendiri yakni pencapaian ke arah peradaban yang lebih sempurna. Anggapan itu dapat dimaknai sebagai dampak perubahan terutama dalam menghargai waktu, benda dan segala bentuk ragam unsur budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atribut-atribut budaya lokal seolah-olah terancam akibat budaya global seperti masuknya berbagai komoditas global, pengaruh dan tindakan yang dipancarluaskan oleh berbagai media penyampai seperti TV dan media cetak lainnya. Akibatnya kita akan lebih menghargai semua itu dengan waktu dan dengan adanya tuntutan tugas yang mesti dilakukan. Keadaan ini justru akan merubah kita yang tanpa disengaja telah melahirkan berbagai interpretasi atas diri dan prilaku kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, situasi dan kondisi dimana budaya lokal akan dipertaruhkan di tengah kancah kebudayaan global, sepertinya melahirkan kontroversi dan paradigma yang berbeda dalam memandang budaya global itu. Sebahagian tidak menginginkan adanya perubahan dalam kelokalan budayanya dan tanpa disadari tindakan yang dilakukan telah merubah keaslian kebudayaan itu. Justru dengan begitu, kita dapat memaknai bahwa perubahan itu akan senantiasa terjadi dan tanpa kita sadari akan meresapi diri kita dan masuk ke dalam pola perilaku dan tindakan kita. Oleh karenanya, kebudayaan akan semakin mantap, bertahan dan lestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terakhir adalah menyangkut kita sebagai pemuja kebudayaan (idols of culture) kita. Adakah kita berupaya memajukan kebudayaan kita itu, atau malah membiarkan budaya kita itu terlindas oleh budaya global? Dan sampai sejauh manakah pengakuan kita terhadap kebudayaan kita itu? Oleh karenanya, penting dilakukan kembali kaji ulang terhadap kepribadian kita yakni bukan secara langsung melontarkan bahwa kebudayaan kita itu adalah tidak maju, tidak modern dan miskin dan terbelakang. Jika demikian yang terjadi maka kebudayaan kita itu akan mengalami pendangkalan makna akibat erosi pemerkayaan dan pemajuan budaya lokal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-3350522288074840545?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/3350522288074840545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/budaya-lokal-vs-budaya-global.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3350522288074840545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3350522288074840545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/budaya-lokal-vs-budaya-global.html' title='Budaya Lokal VS Budaya Global'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-4244597370122338899</id><published>2008-11-15T07:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T05:08:18.623-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kaki Langit</title><content type='html'>Di makam pahlawan tak dikenal, kita diberi tahu: ada seorang yang luar biasa berjasa, tapi ia tak punya identitas. Ia praktis sebuah penanda yang kosong. Tapi hampir tiap bangsa, atau lebih baik: tiap ide kebangsaan, memberi status yang istimewa kepada sosok yang entah berantah yang terkubur di makam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang pertama kali melihat fenomen itu adalah Benedict Anderson. Dalam Imagined Communities-nya yang terkenal itu, ia menulis: ”Betapapun kosongnya liang lahat itu dari sisa-sisa kehidupan yang fana dan sukma yang abadi, tetap saja mereka sarat dengan anggitan tentang ’kebangsaan’ yang membayang bagai hantu.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali sebuah bangsa memang harus selalu menyediakan ruang kosong untuk sebuah cita-cita. Seperti kita memandang ke kaki langit yang sebenarnya tak berwujud, tapi kita ingin jelang. Sekaligus, barangkali sebuah bangsa membutuhkan bayangan yang bagai hantu tentang dirinya: antara jelas dan tak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan Tak Dikenal. Pahlawan Kita. Antara ”tak dikenal” dan ”kita” ada pertautan dan juga jarak. Ia yang gugur itu adalah seorang yang sebenarnya asing—bukan yang dalam bahasa Inggris disebut foreigner, melainkan stranger—tapi ia juga bagian terdalam dari aku dan engkau. Jika tampak ada yang bertentangan di sini, mungkin itu juga menunjukkan bahwa sebuah bangsa—seperti yang dimaklumkan oleh Sumpah Pemuda pada 1928 itu—memang mengandung ketegangan dan keterpautan antara yang asing dan yang tak asing dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sang pahlawan yang tak dikenal itu: yang termasuk dalam ”kita” tak selamanya datang dari puak kita. Salah satu anasir dalam bangsa bisa bekerja untuk unsur yang lain, meskipun keduanya tak saling kenal betul, bahkan ada saat-saat ketika yang satu disebut ”asing” oleh yang lain. Itulah sebabnya kepeloporan para pendiri Indische Partij tak dapat dilupakan: ”orang Indonesia” adalah orang yang bisa melintasi batas, menemui yang ”asing”, untuk jadi satu—tapi di situ ”satu” sebenarnya sama dengan yang tak terhingga. Sebab sebuah bangsa yang tak didefinisikan oleh ikatan darah adalah sebuah bangsa yang selalu siap menjangkau yang beda—dan yang beda tak bisa dirumuskan lebih dulu, tak bisa dikategorisasikan kemudian. Ia tak tepermanai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pahlawan tak dikenal itu: ia memberikan hidupnya buat kau dan aku, tapi ia bukan bagian kau dan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak aneh jika dalam semangat kebangsaan, tersirat sebuah paradoks: sesuatu yang universal ada di dalamnya. Sebab sebuah bangsa pada akhirnya hanya secara samar-samar, seperti hantu, bisa merumuskan dirinya sendiri. Yang penting akhirnya bukanlah definisi, melainkan hasrat. Renan menyebut bahwa bangsa lahir dari ”hasrat buat bersatu”, tapi seperti halnya tiap hasrat, ia tak akan sepenuhnya terpenuhi dan hilang. Hidup tak pernah berhenti kecuali mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal itu, orang sering lupa bahwa bangsa sebenarnya bukan sebuah asal. Ia sebuah cita-cita—dan di dalamnya termaktub cita-cita untuk hal-hal yang universal: kebebasan dan keadilan. Bangsa adalah kaki langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki langit: impian yang mustahil, sulit, tapi berharga untuk disimpan dalam hati. Sebab ia impian untuk merayakan sesuatu yang bukan hanya diri sendiri, meskipun tak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bangsa adalah sebuah proses. Jangan takut dengan proses itu, kata orang yang arif. Tak jarang datang saat-saat yang nyaris putus harapan, tapi seperti kata Beckett dalam Worstward Ho, ”Coba lagi. Gagal lagi. Gagal dengan lebih baik lagi.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-4244597370122338899?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/4244597370122338899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/kaki-langit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4244597370122338899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4244597370122338899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/kaki-langit.html' title='Kaki Langit'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-7563660333296116870</id><published>2008-11-15T07:20:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T07:25:28.603-08:00</updated><title type='text'>Catatan Harian; Barrack Obama</title><content type='html'>Weep no more, my lady,&lt;br /&gt;Oh weep no more today&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau kembali ke pojok yang agak diterangi matahari di kerimbunan hutan itu. Kau kembali dengan mesin waktu yang tak sempurna, tapi  masih kau dengar kor itu,  My Old Kentucky Home, lagu murung yang bertahun-tahun  terdengar sampai jauh lepas  dari Sungai Mississippi, sejak Stephen Foster menulisnya. Itu tahun 1853.  Budak belian hitam yang mencoba jeda dari terik dan jerih  ladang tembakau. Sebuah selingan sederhana dari rutin panjang yang tak pernah dinamai “Penghisapan”. Sebuah sudut hutan yang jadi majelis tersembunyi. Sebuah ruang  buat orang-orang yang dirantai dan dinista untuk  berkumpul dan bertanya: apa sebenarnya semua ini?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kau tak tahu kapan kau datang. Tapi dengan mesin waktu yang tak sempurna kau lihat seorang perempuan tua berbicara di depan majelis itu,  di depan jemaat yang takut menyebut nama Tuhan. Ia mengingatkan kamu kepada Baby Suggs dalam Beloved Toni Morrison. Kau dengar ia berbicara tentang sesuatu yang menakjubkan tapi diabaikan, sesuatu yang biasa tapi tak terduga-duga: daging, jangat, tulang, sendi yang sanggup menanggung pukulan dan dera perbudakan, kelenjar yang menitikkan air mata, jantung yang sesak sebelum tangis, tubuh yang menyembuhkan lukanya sendiri, badan yang dari kepedihan bisa menyanyi, menari, menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudaraku, tubuh kita bisa mengejutkan kita. Kadang-kadang dengan kegagahan. Kadang-kadang dengan keindahan. Semuanya terbatas, tapi dengan itu kita menggapai yang tak terhingga. Semuanya fana, tapi tiap kali memberi arti yang kekal.   Maka jangan menangis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lihat orang-orang terpekur. Kau mungkin tak tahu kenapa: mereka ingin percaya. Tapi mereka juga mendengar,  konon di atas tubuh bertahta Takdir.  Yang tetap. Yang tegar.  Yang lurus dan terang-benderang. Yang tangan-tangannya menebarkan daya tersendiri, merasuki ke otak,   setitik demi setitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak itulah yang kemudian memproduksi alasan. Telah lahir penjelasan yang gamblang, bahwa  ada nasib yang memasang pigmen dalam kulit. Pigmen kita membuat hakikat kita. Ada orang hitam, ada kulit “negro”, ada juga yang “putih”. Warna-warna itulah yang  mengarahkan sejarah.  Identitas adalah nujum. Ada esensi sebelum eksistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi benarkah Takdir merancang semuanya? Di majelis hutan Mississipi itu, suara perempuan tua itu  merendah: “Saudara-saudaraku, kegelapan menyertai kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegelapan di balik pori-pori, di ceruk sel darah merah dan getah bening. Kegelapan dalam suara serak, dalam lagu Old Black Joe yang memberat menjelang ajal.  Kegelapan Maut, kegelapan kata-kata Tuhan yang tak selamanya kita mengerti, kegelapan yang mengelak dari Takdir yang makin lama makin putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegelapan yang membiarkan kita tak punya nama, yang menampik nama bila nama adalah daftar milik yang jelas dari tuan-tuan kita. Kegelapan hutan ini yang teduh. Kegelapan yang melindungi kita dari Kebengisan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blood on the leaves&lt;br /&gt;And blood at the root&lt;br /&gt;Black bodies swinging&lt;br /&gt;In the southern breeze&lt;br /&gt;Strange fruits hanging&lt;br /&gt;From  the poplar trees&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebengisan itu tak pernah kau lihat. Mesin-waktumu yang tak sempurna hanya menemukan potret tubuh George Hughes yang digantung di dahan pohon. Tak hanya digantung. Ia  dibakar. Ini Sherman, Texas, 1930.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bisa baca di perpustakaan kota itu:  “negro” buruh tani ini ditangkap dengan tuduhan membunuh majikannya dan memperkosa istri si tuan. Di kampung kecil yang jarang dihuni itu,  bisik-bisik beredar:  Hughes adalah “hewan yang tahu betul apa yang dimauinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani kulit-putih yang tinggal di dusun itu telah lama bringas, dan kini punya alasan buat lebih bringas. Mereka yang selamanya takut, curiga, dan benci kepada makhluk dengan pigmen berbeda itu kini punya dalih. Mereka serbu gedung pengadilan tempat Hughes ditahan. Mereka bakar. Hughes mereka seret ke luar dan mereka lemparkan ke atas truk. Polisi tak berbuat apa-apa – malah membantu mengatur lalulintas.  Di sebuah lapangan dekat tempat tinggal orang hitam, Hughes diikat dan dikerek ke atas sebuah pohon. Api besar dinyalakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah potret kau lihat:  Hughes yang tinggal arang, terpentang, bergayut, pada pokok yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orosco mengabadikan adegan itu dalam sebuah litograf dari tahun 1934, Negros Colgados.  Lihat, tak cuma satu “negro”. Tubuh-tubuh yang dibunuh itu begelantungan seperti puluhan buah yang aneh.  Billie Holiday mengungkapkannya dalam Strange Fruits: suaranya setengah serak, dengan pilu yang seakan-akan telah jadi napas: Darah pada daun/ darah pada akar/ Jasad hitam yang terayun-ayun/di angin selatan/ buah ganjil yang tergantung/ di pohon  poplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang lain pada lagu itu, yang mula-mula tampak pada litograf Orosco:  pohon dan dahan itu – tak dihiasi daun-daun — seakan-akan menegaskan kekuatan yang lurus, lugas, tegak.  Juga ia tempat pameran yang meyakinkan.  Tak sengaja Orosco mengingatkan kita bahwa sebuah negeri, sebuah tata, adalah bangunan yang kuat karena ia memamerkan sesuatu yang lurus dan sekaligus mengancam.  Dengan kata lain: kebengisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebengisan itu sering ditutupi dengan kata-kata: “utuh”, “harmonis”, “mufakat”, seakan-akan sesuatu yang mulia telah diraih. Seakan-akan tak ada pergulatan politik di baliknya. Seakan-akan yang ada hanya arsitektur Tuhan. Tapi nyanyian Billie Holiday  mengungkapkan kontradiksi-kontradiksi yang disembunyikan: ia berbisik tentang daerah pedalaman Selatan Amerika yang punya sejarah yang gagah, the gallant South, tapi ia segera menyebut wajah kesakitan orang-orang hitam yang tercekik. Ia menyebut “harum segar manis kembang magnolia”, tapi  di baris berikutnya “bau jangat terbakar yang terhidu tiba-tiba”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap tata dibentuk dengan taksonomi: “putih”, “hitam”, “borjuis”, “proletar”, “asli”, “tak-asli”, “mayoritas”, “minoritas”.  Tiap taksonomi dimulai dengan kepalsuan dan pemaksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu berarti ini tak ada tangan Takdir yang merancang.  Tak ada hakikat sebelum apa yang diperbuat. Tak ada esensi sebelum eksistensi.  Pembagian, apalagi pemisahan rasial,  sepenuhnya hasil sebuah proses politik. Si “hitam” bukan jadi “hitam” karena ia diciptakan “hitam”, melainkan karena ia distempel dan disensus dan dikelompokkan ke dalam kategori “hitam”.  Sejarah “hitam” dan “putih” adalah riwayat pergelutan, terkadang dengan pertempuran, terkadang dengan teriak mengajak maju, serempak, berbaris, 1000 pekik dari pita suara yang panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yes, we can&lt;br /&gt;Yes, we can&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau dengar suara itu di kerumunan manusia di Grant Park, Chicago,  4 November 2008 malam. Ya, kita dapat. Ya, kita sanggup.  Kita – kata orang-orang itu –  sanggup membuat seorang Amerika dengan nama yang aneh dipilih jadi presiden dengan dukungan yang meyakinkan.  Kita sanggup mengubah warisan sejarah yang telah memicu Perang Saudara di abad ke-19. Kita sanggup mengguncang pohon tempat kebengisan dipajang seakan-akan sebuah struktur yang cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini bukan hanya cerita kemenangan seorang yang bisa melintasi taksonomi “hitam-putih”.   Ini terutama cerita kemenangan dari pengertian lain tentang “politik”.  Sebab yang datang bersama Obama bukanlah politik sebagai kiat untuk mendapatkan yang-mungkin.  Di tahun 2008 ini, di Amerika Serikat kita justru menyaksikan “politik” sebagai hasrat, setengah nekad, untuk menggayuh yang-tak-mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang-tak-mungkin memang akan selamanya tak-mungkin. Tapi yang-mustahil itu jadi berarti karena ia memanggil terus menerus, dan ia membuat kita merasakan sesuatu yang tak terhingga – yang agaknya menyebabkan jutaan orang bersedia antri berjam-jam untuk memilih dan mengubah sejarah: mereka menyebutnya Keadilan, atau Kemerdekaan, atau nama lain yang menggugah hati. Seperti cinta yang terbata-bata tapi tulus. Seperti sajak yang hanya satu bait tapi menggetarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tubuh-tubuh yang kau lihat menyanyi di hutan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weep no more, my lady,&lt;br /&gt;Oh, weep no more today.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-7563660333296116870?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/7563660333296116870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/catatan-harian-barrack-obama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/7563660333296116870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/7563660333296116870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/catatan-harian-barrack-obama.html' title='Catatan Harian; Barrack Obama'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-4397308053444804242</id><published>2008-11-15T07:16:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T07:20:26.837-08:00</updated><title type='text'>Genealogi Gerakan Intelektual Muslim di Indonesia</title><content type='html'>Dosen muda Universitas Paramadina,Yudi Latif, lagi-lagi meluncurkan sebuah buku yang cukup menarik, “Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Abad ke-20”.  Buku setebal 700-an halaman ini konon merupakan buah karya doktoralnya yang ia sabet dari Australian National University, Australia. Buku inilah yang menjadi bahan diskusi hampir di setiap jaringan intelektual muslim di Indonesia belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Edwin, seorang aktivis Reform Institute, karya Yudi ini merupakan sumbangan pemikiran yang sangat berarti dalam bidang sosiologi politik dan sejarah. Ia telah berhasil memetakan corak pemikiran ke-Islaman di Indonesia dalam rentang waktu kurang lebih satu abad (abad XX). Ia juga menilai buku Yudi mempunyai kekuatan teoritis yang sangat bagus. Melalui metode genealogis ala Foucault, Yudi berusaha memerhatikan gerak perkembangan diakronik dan rantai intelektual antar-generasi dari intelegensia muslim Indonesia. Tujuan metode genealogis bagi Edwin adalah mencatat kekahasan (singularity) peristiwa-peristiwa di luar maklumat yang itu-itu saja (monotonous finality). “Karena sejarah, mengutip Foucault, tidak hanya melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di masa lampau, tetapi yang lebih penting adalah mendiagnosa situasi sekarang serta menawarkan kritik dan preskripsi penyakit masa kini dengan melongok masa lampau”, tegasnya lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping membaca sejarah, metode ini juga digunakan oleh penulis buku untuk melihat relasi kuasa yang terjadi pada domain pendidikan, ruang publik, praktek wacana, dan permainan kuasa. Penulis merasa perlu untuk melongok wilayah pendidikan. Karena wilayah ini baginya merupakan ruang kontestasi kekuasaan dan sumber legitimasi intelegensia. Sementara praktek wacana mentransmisikan dan memproduksi kuasa yang akan diekspresikan dalam arena publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keunggulan metode yang diungkapkan oleh pembicara awal, pemetaan intelegensia muslim di Indonesia serta pembedaan terminologi intelektual dan intelegensia juga menjadi perhatian kedua pembicara malam itu. “Bagi Yudi intelegensia itu merujuk pada sebuah strata sosial dan mengindikasikan suatu ‘respon kolektif’ dari sistem nilai, habitus dan ingatan kolektif tertentu”, jelas aktivis JIL, Burhanudin. “Sementara intelektual pada awalnya adalah merujuk pada ‘individualitas’ dari para pemikir dan mengindikasikan respon indiviual dari para pemikir terhadap sebuah ‘panggilan’ historis atau fungsi sosial tertentu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi calon mahasiswa ANU ini, definisi Yudi atas dua term di atas tampak berlawanan dengan definisi Dawam Raharjo atas keduanya. Menurut cendekiawan yang membidani lahirnya Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) ini, sebagaimana ditulis dalam bukunya “Intelektual Inteligensia dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim”, intelektual adalah golongan terpelajar yang sekolahan atau bukan (drop outs), yang peranannya tidak mesti berkaitan dengan ilmu yang dipelajari atau profesi yang ditekuninya. “Mereka biasanya berperan sebagai kritikus sosial, bersikap emansipatoris, dan kerapkali bersifat politis”, lanjut Burhan mengutip tulisan Dawam. Sementara inteligensia adalah kaum terpelajar yang menggunakan disiplin ilmunya secara profesional, dan karena itu peranan yang mereka jalankan selalu berkaitan erat dengan disiplin ilmu yang mereka pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari perbedaan term yang diusung, Yudi dengan cukup cerdas juga memetakan arah gerakan intelegensia muslim di Indonesia. Modernisasi pemikiran Islam yang dihembuskan oleh Abduh di Mesir, banyak memengaruhi arah gerakan Islam saat itu. Masuknya modernisme Islam ke Indonesia, disinyalir berasal dari para mahasiswa Indonesia yang belajar ke Timur Tengah pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping modernisme, ada pula wacana lain yang saat itu menjadi tren gerakan anak-anak muda. Yudi secara lebih singkat membagi orientasi pemikiran ini ada pada tiga kelompok besar. Pertama, mereka yang berorientasi Barat yang saat itu biasa disebut sebagai kaum terpelajar atau kemadjoean. Kedua, adalah mereka yang masih berpegang teguh pada khazanah agung. “Mereka ini diwakili oleh kaum tradisionalis-konservatif”, jelas Burhan. Ketiga, mereka yang berhaluan pembaharuan atau modernisme Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari tiga orientasi besar ini, Yudi kemudian membagi-bagi cendekiawan muslim itu berdasar masanya. Paling tidak ada enam generasi intelegensia muslim yang berkembang hingga sekarang. Masa pertama diawali oleh generasi Agus Salim, Cokroaminoto dan kawan-kawan. Disusul oleh generasi kedua dengan tokohnya Wahid Hasyim, Kafrawi, dari kelompok tradisional. Sementara generasi ketiga diwakili oleh generasi Mukti Ali, Deliar Noer, Zakiah Darajat dll. Generasi ketiga ini disinyalir oleh Yudi telah mempelopori lahirnya organisasi semacam HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PII (Pelajar Islam Indonesia), dan GPII (Gabungan Pelajar Islam Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya disusul generasi ke empat dengan tokohnya Imadudin Abdul Rahim, Ismail Hasan Metareum, dan Cak Nur. Generasi kelima diwakili oleh angkatan Azyumardi Azra, Fahri Ali, Masdar F. Masudi dan Marwah Daud Ibrahim. Sementara dari sayap aktivis dakwah ada Hidayat Nurwahid, Nurmahmudi Ismail, Ismail Mutammimul Ula. Generasi empat dan lima ini telah berhasil melahirkan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh generasi yang telah dipaparkan, yang menarik perhatian peserta diskusi malam itu adalah generasi terakhir. Mereka adalah para aktivis yang selama ini aktif menyuarakan liberalisme Islam, seperti Ulil Abshar-Abdalla, Hamid Basyaib, Saiful Mujani, Burhanudin, dan Nong Darol Mahmada. Mereka bukan saja mewakili generasi ke enam, tetapi gerakan liberalisme yang mereka usung juga dinilai paling mewarnai generasi Intelegensia Muslim pada saat ini. Sementara di sayap kanan fundamentalisnya terdapat nama, seperti Anis Matta dan Adian Husaini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemetaan intelegensia muslim ini mampu menjelaskan gelombang sejarah pemikiran dan intelektual di Indonesia yang tidak monofonik dan tidak satu arah. Namun menurut Burhan, Yudi masih lebih banyak melihat aspek eksternal yang berpengaruh pada pembentukan embrio intelegensia muslim Indonesia. “Sementara dinamika internal customary Islam yang terjadi di tanah air pada saat itu cenderung dilupakan oleh Yudi”, ucap Burhan.Hal itu tampak ketika Yudi lebih banyak melihat aspek gerakan reformisme di Timur Tengah dan politik etis Hindia Belanda yang dinilai telah mendorong tumbuhnya gerakan modernisme dan reformisme Islam di Indonesia. “Padahal gerakan reformis-revivalis Islam di Indonesia, seperti Muhamadiyah atau Persis, bukan semata-mata hasil injeksi oleh pengaruh jaringan internasional semata, tetapi juga karena kejengahan sebagian ulama atas praktek lokal yang dianggap masuk dalam TBC (Takhayyul, Bid’ah, dan Khurafat).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelengahan Yudi melihat dinamika internal ini juga telah menjebaknya dalam melihat fenomena anak muda NU di akhir abad 20. Ia dengan serta merta memasukkan mereka dalam barisan liberalisme Islam. “Kalau ada Rumadi atau Baso di sini, pasti mereka akan keberatan untuk dimasukkan dalam Islib”, seloroh Burhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski alumni UIN Jakarta ini banyak mengkritik buku Yudi, tetapi ia tetap apresiatif atas karya monumental Yudi. “Sulit untuk menampik kenyataan bahwa buku ini dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Bahkan ketika membaca buku ini saya merasa kesulitan untuk mencari celah. Karena hampir semuanya telah dibahas tuntas”, paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi yang berlangsung di padepokan Teater Utan Kayu ini juga dihadiri oleh penulis buku, Yudi Latif. Pada sesi akhir, oleh moderator, ia diberi kesempatan untuk memberikan komentar. Dalam komentarnya, ia berterima kasih pada Burhan yang telah membaca karyanya dengan sangat kritis, termasuk juga membuat resensinya di Media Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-4397308053444804242?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/4397308053444804242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/genealogi-gerakan-intelektual-muslim-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4397308053444804242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/4397308053444804242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/genealogi-gerakan-intelektual-muslim-di.html' title='Genealogi Gerakan Intelektual Muslim di Indonesia'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-3602273796913917741</id><published>2008-11-13T08:07:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T08:08:41.520-08:00</updated><title type='text'>Refleksi di Pagi Hari</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku belum tahu apa hakikat keMahasiswaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang sebenarnya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku baru tahu itu menurut Teman, Senior,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bu Lina,...menurut yang lainnya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terus terang aku belum puas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang kucari belum kutemukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahasiswa dalam makna sejatinya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahasiswa yang sesuai dengan khittah perjuangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akan kucari...Tapi orang-orang mengatakan bahwa hakikat keMahasiswaan yang kutemukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;adalah menurut aku Sendiri..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ah, biarlah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang penting kuat dalam keyakinanku bahwa hakikat keMahasiswaan yang kupahami adalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hakikat yang sesungguhnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya.., ku harus yakin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Awank)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua alasan mengapa tulisan ini ada Pertama, tulisan ini hadir sebagai refleksi kritis terhadap prosesi penerimaan mahasiswa baru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar yang baru saja usai sekaligus kado ucapan terima kasih kepada seluruh kakanda di HMJ Fisika yang diharapkan tulisan ini mampu memberikan konstribusi yang signifikan terhadap perubahan konstruk berfikir kanda senior kita di HMJ Fisika. Kedua, Tulisan ini meskipun tidak sistematis dan ditulis secara bebas -dan masih banyak kekurangan di dalamnya- tentu saja memiliki semangat dan mengandung pesan yang ingin dikomunikasikan pada siapa saja yang membacanya. Secara implisit pesan dalam tulisan ini sedikit-banyaknya memuat tentang keresahan dan kekhawatiran penulis terhadap realitas yang ada selama ini di lingkup kelembagaan mahasiswa terutama di HMJ Fisika sekaligus mengajak kawan-kawan agar turut reflektif dan mengevaluasi perjalanan kita di Universitas Muhammadiyah Makassar walaupun pengembaraan panjang baru saja kita mulai. Tidak lain dalam rangka mengusung perbaikan dan pembenahan secara produktif dengan didasari pada kerangka komitmen kita sebagai seorang mahasiswa yang senantiasa diharapkan mampu melakukan rekonstruksi terhadap realitas yang ada. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan pada saat ini agar seluruh kakanda senior maupun teman-teman Mahasiswa Baru di Jurusan Fisika untuk membuka diri dan merenungkan apa yang sebenarnya menjadi hakikat keberMahasiswaan kita ketika menyandang predikat yang namanya Mahasiswa, tawwaa.. Penulis mengharapkan seluruh elemen mahasiswa Fisika mampu menyatukan persepsi, mengitegrasikan pemikiran, dan saling berelaborasi ide guna menyelami ragam persoalan yang menurut penulis sifatnya radikal.&lt;br /&gt;Penulis memahami jika kita merunut secara menyeluruh persoalan demi persoalan di Himpunan Mahasiswa Jurusan Fisika akan hadir sederetan masalah yang kompleks dan saling korelasi antara satu dengan yang lainnya baik persoalan itu diterawang dari sisi internal maupun pada dimensi eksternal. Akan tetapi ada seperangkat masalah yang rupanya dapat disudahi dengan kreatifitas individu juga ada pula uraian masalah yang sesungguhnya harus disikapi secara kolektif-kelembagaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perkaderan Mesti Transformatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertama, problem internal yang turut andil menciptakan carut marut bagi gerakan mahasiswa hari ini adalah kurangnya proporsionalitas perkaderan yang dilakukan di setiap level tingkatan. Sedikit merefleksi ke belakang mencoba menelaah prosesi Bina Akrab yang dilakukan oleh kakanda kita di HMJ FISIKA yang berlangsung di Benteng Somba Opu-ternyata tak satupun indikator keberhasilan atau apa yang diinginkan bersama itu mampu tercapai. Jangankan kesadaran kritis yang harus dibangun sebagai pondasi awal dalam berlembaga bahkan pemahaman tentang materi yang disuguhkan pun belum tercapai. Juga disorientasi perkaderan sehingga tidak ada visi yang jelas, untuk apa perkaderan ini dilaksanakan. Hal ini tentu disebabkan oleh sistematika perkaderan yang dilakukan oleh kanda kita di HMJ adalah sistem pendidikan yang tidak memanusiakan manusia. Mengapa saya katakan demikian, karena indikator-indikator pendidikan yang partisipatif tak satupun direalisasikan. Warga belajar diambil hak-hak asasinya sehingga terkesan kanda senior menindas teman-teman MaBa, walaupun sebelumnya telah terbangun kesepakan untuk tidak melakukan kekerasan dan penindasan. Tapi, hemat saya itu adalah sebuah penindasan yang berkedok sistem-apalagi berapologi, atau bisa dikatakan menjustifikasi-untuk membiasakan diri teman-teman Maba mengalami hal yang serupa. Ditambah dengan suasana pembelajaran yang tidak partisipatif, nyaman, dan menyenangkan sehingga efektifitas yang diharapkan dalam pencapaian pemahaman materi tidak tercapai. Senior !, zaman telah berubah dan kedewasaan pun bertambah, saatnya kita menyudahi sistem pendidikan yang bersifat menindas dan tidak mendidik. Sudah saatnya kita membimbing pikiran dengan kekuatan kebenaran bukan membelenggunya dengan kekerasan. Merubahnya dari sistem pendidikan andragogy menjadi sistem pendidikan paedagogy dengan prinsip partisipatory learningnya.&lt;br /&gt;Memilukan memang, apalagi fenomena ini dirasakan hampir di seluruh himpunan mahasiswa. Jika hal ini terus berlanjut, maka jangan harap ke depan akan lahir Che Guevara Muda yang mampu melawan arus ”tsunami” kapitalisme global, yang mampu bernas ketika yang tua mulai tersesat dan tenggelam dalam budaya pragmatis. Namun harus disadari kalau persoalan ini tidak dipicu oleh satu faktor an sich tetapi multisebab. Saatnya mungkin untuk kita merenung diri, apakah sistem yang selama ini dilakukan sudah mampu melahirkan kesadaran kritis dalam diri kita semua? Apakah semua yang kita lakukan telah memberikan hasil yang diinginkan? Kalau kita belum mampu memberikan sentuhan makna dan menciptakan atmosfir ideologis atau kondisi sesuai dengan harapan dan kebutuhan yang diharapkan maka tidak ada alasan untuk defensif, berapologi, mempertahankan ”kultur” yang ada. Apalagi berpindah alih menyalahkan teman-teman kita yang kritis melihat ketimpangan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedewasaan Berlembaga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedua, nampaknya mulai detik ini kita mesti inklusif dan merefleksikan diri berusaha serta terus belajar terutama kedewasaan dalam mengawal lembaga keMahasiswaan yang kita cintai bersama. Masih jelas di benak saya ketika ketidakdewasaan berlembaga itu ditunjukkan oleh salah seorang senior kita ketika menerima kritikan dari seorang Maba. Hal itu sebenarnya tidak perlu dilakukan karena jelas akan berdampak negatif terutama dapat membunuh karakter sang Maba. Padahal sebenarnya, kritikan itu lumrah adanya yang penting hal itu bersifat konstruktif. Mahasiswa Baru ini bukanlah orang yang berjalan di tengah kegelapan malam jadi sudah menjadi sunnatullah jika mereka mencoba mencari kebenaran yang diinginkan. Olehnya, sebagai seorang mahasiswa yang peduli terhadap kondisi sudah saatnya mungkin kita merefleksi dan berbenah diri. Benarkah HMJ kita selama ini telah menjadi tenda besar yang sanggup mengakomodir gejolak dan kecenderungan nilai serta kreatifitas kejiwaan dari teman-teman yang notabene berasal dari daerah yang berbeda yang tentu membawa ragam corak yang berbeda pula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasib ”The Agent of Change”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Cita-cita untuk memerankan ”The Agent of Change” dan ”Sosial Control” yang dilandasi dengan kesadaran kritis sebagai ikon paradigmatik gerakan mahasiswa menemui kebuntuan dalam praksis gerakannya. Rupanya kita harus mengakui bahwa ideologi yang telah terbangun dengan kerangka konseptualnya belum dapat membuana secara massif. Sehingga banyak diantara kita tak tahu menahu tentang peran sosial seorang mahasiswa. Tentu hal ini berimplikasi pada kekakuan menafsir ketimpangan yang dialami oleh bangsa kita saat ini. Sangat terasa kalau keberMahasiswaan kita akhir-akhir ini masih terjebak oleh kecenderungan simbolis namun gagal memberi sentuhan idiologis terhadap aktivisme berlembaga yang menyebabkan para mahasiswa hanya bisa menjadi ”EO” saja tanpa pernah mau menjalankan peran sosialnya sebagai elemen pembaharu.&lt;br /&gt;Bukan apa, diskursus tentang hal tersebut memang masih belum diterjemahkan secara intensif, justru menjadi barang mahal dan tidak populis. Olehnya, konsepsi ideologis seorang Mahasiswa secepatnya harus diobral dengan cara dan jalan apapun agar dapat dipahami, terinternalisasi kemudian diolah-terjemahkan dalam praksis gerakan terutama di setiap event-event perkaderan, supaya hal ini tidak lagi sekedar jargon “gagah-gagahan” yang di publikasikan lewat spanduk-spanduk kegiatan dan enteng diucapkan ketika berdemonstrasi tanpa memahami substansi yang tersirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ada yang hilang dari Mahasiswa..!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keempat, akhir-akhir ini mahasiswa sepertinya kehilangan semangat dan konsistensi dalam menggiatkan tradisi keilmuan dan ragam aktivitas lain yang bernilai konstruktif. Sangat terasa kalau belakangan ini sebagian besar mahasiswa sudah semakin jauh dari kebiasaan membaca apalagi menyisihkan waktu untuk menulis. Aktivitas kajian, diskusi dan pengajian pun tidak lagi dipandang sebagai proses yang berharga. Pertanyaannya kemudian adalah mengapa penghargaan kita terhadap ilmu pengetahuan semakin memudar? Mengapa kita lebih senang berimajinasi daripada beraksi? Mengapa semangat kita untuk memproduksi terganti dengan kebiasaan mengkomsumsi? Mengapa kita lebih senang mengimitasi daripada berkreasi? Mengapa kita lebih mau mendengar daripada berbicara? Ada apa sesungguhnya dengan kita semua? Mengapa kita seolah semakin pelit berpikir tentang Kemajuan Gerakan Mahasiswa? Mengapa kita terlalu kikir menyisihkan beberapa rupiah hanya untuk membeli buku? Mengapa kita ogah menyisihkan waktu tenaga dan pikiran kita beberapa jam untuk membaca atau bahkan menulis? Mengapa masih banyak diantara kita yang memaknai bahwa tugas mahasiswa hanya bolak balik kampus dan menyelesaikan tugas yang diberikan dosen an sich?&lt;br /&gt;Saya yakin, kita adalah orang-orang yang masih sehat dan waras, makanya jangan sekali-kali lupa atau sok tidak ingat bahwa pada hakikatnya kita akan kembali berbaur dengan realitas masyarakat di sekitar kita yang nantinya masyarakat akan menanti konstribusi kita dalam melakukan perubahan. Kita harus yakin bahwa berjuang demi orang banyak adalah kemuliaan!. Ingat, mahasiswa memiliki kewajiban menerjemahkan pengetahuan teoretis yang mereka peroleh di universitas, ke dalam kritik-kritik yang radikal terhadap keadaan masyarakat sekarang dan tentunya relevan dengan mayoritas penduduk. Oleh karena itu, janganlah kita pura-pura menutup mata dan sok tidak merasakan ketimpangan yang ada. Atau bahkan tidak mau peduli dengan urusan pemerintahan yang semakin hari semakin bobrok dan berkata; ”itu bukan urusan kita!”, ”biarkan mereka menikmatinya”, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Nampaknya tidak ada pilihan lain untuk tidak melakukan perubahan yang progresif mengenai konstruk berfikir dalam diri kita agar pergerakan mahasiswa tetap eksis dan menyejarah dalam pergulatan zaman. Ya, progresifitas yang saya maksud adalah suatu gerakan produktif yang tak berhenti untuk berkarya, gerakan yang terus bergulat, menalar dan berdialektika dengan realitas. Yang selalu dalam keadaan resah, tidak puas dengan yang ada, senantiasa menggali hal yang lebih benar atas kebenaran yang sudah tersedia.&lt;br /&gt;Manakala kita telah berhenti mencari dan bertanya, sudah puas dengan apa yang telah ada, tidak mengkritik terhadap kebekuan yang mentradisi, telah berhenti gelisah dan resah, sudah tidak ada lagi gejolak juga pergolakan wacana ditubuhnya, tak ada lagi benturan ide dan konflik yang bermain didalamnya. Maka yakin, pergerakan kita telah berhenti menjadi gerakan progresif.&lt;br /&gt;Semoga cinta dan ridho Allah SWT hanya diperuntukkan bagi hamba-hambanya yang senantiasa rindu perubahan “ Semoga !!!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nuun Wal Qolami Wa Maa Yasthuruun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nuun, demi pena dan segala yang dituliskannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nuruda’wah Muhammadiyah, 29 Oktober 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pend. Fisika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Universitas Muhammadiyah Makassar Angkatan 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-3602273796913917741?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/3602273796913917741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/refleksi-di-pagi-hari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3602273796913917741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/3602273796913917741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/refleksi-di-pagi-hari.html' title='Refleksi di Pagi Hari'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-8181643346899314107</id><published>2008-11-13T07:53:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T07:54:40.371-08:00</updated><title type='text'>Gerakan Mahasiswa Sebagai Gerakan Pemberdayaan</title><content type='html'>Diskurkus tentang mahasiswa dan gerakannya sudah lama menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun. Begitu banyaknya forum-forum diskusi yang diadakan, telah menghasilkan pula pelbagai tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks keperduliannya dalam meresponi masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa --- sebagai perpanjangan aspirasi rakyat ---- dalam situasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi vis a vis penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, segala ragam bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa lebih merupakan dalam kerangka melakukan koreksi atau kontrol atas perilaku-perilaku politik penguasa yang dirasakan telah mengalami distorsi dan jauh dari komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi kesejahteraan hidup rakyatnya. Oleh sebab itu, peranannya menjadi begitu penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat. Saking begitu berartinya, sejarah perjalanan sebuah bangsa pada kebanyakkan negara di dunia telah mencatat bahwa perubahan sosial (social change) yang terjadi hampir sebagian besar dipicu dan dipelopori oleh adanya gerakan perlawanan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan utama menempatkan mahasiswa beserta gerakannya secara khusus dalam tulisan singkat ini lantaran kepeloporannya sebagai "pembela rakyat" serta keperduliannya yang tinggi terhadap masalah bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan jujur dan tegas. Walaupun memang tak bisa dipungkiri, faktor pemihakan terhadap ideologi tertentu turut pula mewarnai aktifitas politik mahasiswa yang telah memberikan konstribusinya yang tak kalah besar dari kekuatan politik lainnya. Oleh karenanya, penulis menyadari bahwa deskripsi singkat dalam artikel ini belum seutuhnya menggambarkan korelasi positif antara pemihakan terhadap ideologi tertentu dengan kepeloporan yang dimiliki dalam menengahi konflik yang ada. Mungkin bisa dikatakan artikel ini lebih banyak mengacu pada refleksi diskursus-diskursus politik kekuasaan otoritarian Orde Baru yang sengit dilakukan di kalangan aktifis mahasiswa dalam dekade 90-an. Di mana sebagian besar gerakan-gerakan mahasiswa yang terjadi kala itu, penulis ikut terlibat di dalamnya. Tentunya, pendekatan analisis dalam artikel ini lebih mengacu pada gerakan mahasiswa pro-demokrasi jauh sebelum maraknya gerakan mahasiswa dalam satu tahun terakhir ini, yang akhirnya mengantarkan pada pengunduran diri Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemihakan terhadap ideologi tertentu dalam gerakan mahasiswa memang tak bisa dihindari. Pasalnya, pada diri mahasiswa terdapat sifat-sifat intelektualitas dalam berpikir dan bertanya segala sesuatunya secara kritis dan merdeka serta berani menyatakan kebenaran apa adanya. Maka, diskursus-diskursus kritis seputar konstelasi politik yang tengah terjadi kerap dilakukan sebagai sajian wajib yang mesti disuguhkan serta dianggap sebagai tradisi yang melekat pada kehidupan gerakan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mahasiswa kita mendapatkan potensi-potensi yang dapat dikualifikasikan sebagai modernizing agents. Praduga bahwa dalam kalangan mahasiswa kita semata-mata menemukan transforman sosial berupa label-label penuh amarah, sebenarnya harus diimbangi pula oleh kenyataan bahwa dalam gerakan mahasiswa inilah terdapat pahlawan-pahlawan damai yang dalam kegiatan pengabdiannya terutama (kalau tidak melulu) didorong oleh aspirasi-aspirasi murni dan semangat yang ikhlas. Kelompok ini bukan saja haus edukasi, akan tetapi berhasrat sekali untuk meneruskan dan menerapkan segera hasil edukasinya itu, sehingga pada gilirannya mereka itu sendiri berfungsi sebagai edukator-edukator dengan cara-caranya yang khas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang committed dengan mata hatinya, mereka akan merasa "terpanggil" sehingga terangsang untuk bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan gerakan mahasiswa terdapat adagium patriotik yang bakal membius semangat juang lebih radikal. Semisal, ungkapan "menentang ketidakadilan dan mengoreksi kepemimpinan yang terbukti korup dan gagal" lebih mengena dalam menggugah semangat juang agar lebih militan dan radikal. Mereka sedikit pun takkan ragu dalam melaksanakan perjuangan melawan kekuatan tersebut. Pelbagai senjata ada di tangan mahasiswa dan bisa digunakan untuk mendukung dalam melawan kekuasaan yang ada agar perjuangan maupun pandangan-pandangan mereka dapat diterima. Senjata-senjata itu, antara lain seperti; petisi, unjuk rasa, boikot atau pemogokan, hingga mogok makan. Dalam konteks perjuangan memakai senjata-senjata yang demikian itu, perjuangan gerakan mahasiswa --- jika dibandingkan dengan intelektual profesional ---- lebih punya keahlian dan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatannya dengan rakyat terutama diperoleh lewat dukungan terhadap tuntutan maupun selebaran-selebaran yang disebarluaskan dianggap murni pro-rakyat tanpa adanya kepentingan-kepentingan lain meniringinya. Adanya kedekatan dengan rakyat dan juga kekauatan massif mereka menyebabkan gerakan mahasiswa bisa bergerak cepat berkat adanya jaringan komunikasi antar mereka yang aktif ( ingat teori snow bowling)..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime mover terjadinya perubahan politik pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mereka terbukti dalam serangkaian peristiwa penggulingan, antara lain seperti : Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Soekarno di Indonesia tahun 1966, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998. Akan tetapi, walaupun sebagian besar peristiwa pengulingan kekuasaan itu bukan menjadi monopoli gerakan mahasiswa sampai akhirnya tercipta gerakan revolusioner. Namun, gerakan mahasiswa lewat aksi-aksi mereka yang bersifat massif politis telah terbukti menjadi katalisator yang sangat penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang kekuasaan tirani.&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-8181643346899314107?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/8181643346899314107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/gerakan-mahasiswa-sebagai-gerakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/8181643346899314107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/8181643346899314107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/gerakan-mahasiswa-sebagai-gerakan.html' title='Gerakan Mahasiswa Sebagai Gerakan Pemberdayaan'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-2198687536478950155</id><published>2008-11-13T07:52:00.001-08:00</published><updated>2008-11-13T07:52:55.910-08:00</updated><title type='text'>Gerakan Moral Mahasiswa</title><content type='html'>Menilik fase sejarah bangsa, gerakan mahasiswa merupakan gerbong setiap perubahan di negeri ini. Diakui atau tidak, setiap kali terjadi perubahan, gerakan mahasiswa selalu mengambil posisi penting garda depan dan setiap kali itu pula gerakan mahasiswa selalu ketinggalan gerbong dalam menikmati upeti perjuangannya. Tengoklah perjalanan idelogis Soe yang telah rela mewakafkan dirinya untuk melakukan revolusi besar-besaran di internal pemerintahan Indonesia saat itu. Namun, akhirnya Gie meninggal di tengah keterasingannya. Ini ironi sekaligus nestapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Mahasiswa telah membuktikan eksistensinya sebagai kekuatan oposisi sejati dan gemilang dalam melakukan represi terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang dan zalim. Geliat politik yang dilakukan dapat dimaknai sebagai manifestasi murni tanpa target kekuasaan atau material.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Telah terukir dalam sejarah bahwa gerakan mahasiswa memberikan sumbangsi berharga bagi pergerakan bangsa ini menuju kemerdekaan. Ingatan kita pun tertuju pada ide brilian yang dilahirkan Dr. Sutomo dan kawan-kawan dengan mendirikan Boedi Oetomo pada 1908. Organisasi pun ini menjadi tonggak kemunculan pergerakan nasional. Peran signifikan juga diambil mahasiswa dalam pelaksanaan Sumpah Pemuda 1928. Dan yang takkan terlupakan mungkin oleh penulis ketika rezim orde baru kemudian di”mati”kan oleh para kaum muda intelektual di seantero penjuru Indonesia dengan pengorganisiran kekuatan yang solid dan terbukti mampu ”menumbangkan” Soeharto dari tahta kepresidenannya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara komprehensif, sebenarnya ada beberapa faktor yang mendorong pelecutan gerakan mahasiswa dan pemuda. Pertama, kondisi rakyat yang semakin meprihatinkan di bawah kepemimpinan yang dianggap telah gagal mengawal amanat rakyat sehingga mahasiswa mencoba melakukan peranannya sebagai social control. Kedua, kebijakan-kebijakan yang ditempuh pemerintah yang dinilai terlalu banyak merugikan elemen masyarakat -semau perutnya sendiri- terutama kaum termarginalkan. Karena kebijakan ini, pengangguran semakin membengkak, jurang antara kaya dan miskin semakin menganga lebar, monopoli ekonomi semakin dirasakan di beberapa sektor, tidak adanya ruang diskursus antara yang diatas dan yang dibawah, ketidakadilan ekonomi yang semakin nyata ini yang menjadi mandat bagi mahasiswa untuk turun melakukan kontrol terhadap kebijakan pemerintah. Ketiga, gerakan mahasiswa merupakan gejala global sehingga dianggap perlu ada komponen yang dapat mengeliminir efek dari globalisasi yang memiliki ruh kapitalisme, neoliberalisme dan pragmatisme. Hal ini kemudian membuat mahasiswa mendeklarasikan dirinya sebagai the agent of chage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, keprihatinan terhadap realitas sosial yang membuat tumbuh suburnya gelora semangat mahasiswa dan berupaya untuk tetap kritis melihat ketimpangan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika masa demokrasi liberal berjalan terasa aksi mahasiswa lambat laun mulai meredup. Fischer mengemukakan, kesadaran akan perannya sebagai the future elite memberikan perasaan aman pada mahasiswa. Di samping sebagian dari mereka pejuang bersenjata yang menganggap tugas belajar sebagai noblesse oblige untuk mengejar ketertinggalan. Situasi demikian berlanjut hingga pada sandyakalaning demokrasi liberal. Para mahasiswa kemudian terjebak pada rutinitas memperkaya diri dengan ilmu-ilmu praktis yang semakin memisahkan mahasiswa dari realitas sosialnya. Begitu seterusnya hingga menjelang saat-saat dimana masa bulan madu Gus Dur-Mega berakhir. Di kalangan mahasiswa terjadi fragmentasi kepentingan politik yang begitu luar biasa baik yang terakomodasi di dalam lembaga-lembaga formal kemahasiswaan (Badan Eksekutif Mahasiswa) maupun yang menjelmakan diri ke dalam organ-organ taktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pun berdampak pada polarisasi gerakan mahasiswa. Polarisasi yang demikian jelas semakin menjauhkan penemuan kembali gerakan mahasiswa yang berada pada satu platform sebagai gerakan moral yang berdiri di atas kepentingan kelompok atau golongan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan mahasiswa kembali menemukan bentuk ketika kekuasaan terpusat pada Soekarno dengan Demokrasi Terpimpin. Tambahan lagi dengan meletusnya Gestapu 1965 yang disebut Geertz sebagai bukti kedalaman dissensus, ambivalensi, disorientasi masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sokongan militer, mahasiswa lewat KAMI dan KAPPI dapat memaksa Soekarno jatuh dan membuang jauh-jauh PKI. Akhirnya muncullah sebuah ilusi berupa koalisi mahasiswa dengan militer. Namun dalam waktu cepat, ilusi berubah menjadi disilusi, hanya dua tahun setelah demonstrasi digelar pada 1966. (M Aziz Hakim, 2001) Setelah angkatan ini, lahir kembali gerakan mahasiswa awal 1970-an. Yakni mereka (mahasiswa) yang lahir setelah kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya gerakan mahasiswa kembali menemukan bentuk. Seyogyanya ketimpangan yang terjadi mampu mengilhami kebersatuan kembali gerakan mahasiswa. Perasaan senasib dan seperjuangan mesti berwujud pada terciptanya koridor kaum muda yang kritis dan peka terhadap realitas sosial. Pembelaan, penyadaran dan pemberdayaan mesti segera digalakkan untuk menghentikan gejolak kaum tua yang semakin menjadi-jadi. Integrasi pemikiran dan ide-ide seharusnya mewarnai aktivitas-aktivitas kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu adanya langkah strategis untuk memetakan gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral yang tetap setia kepada perjuangan nasional untuk keadilan serta penuntasan agenda kerakyatan, yang perlu dilakukan bersama, pertama, mendorong agenda konsolidasi nasional di tingkat elite politik dan masyarakat untuk mencegah disintegrasi sosial dan bangsa. Kedua, mendorong konsolidasi demokrasi. Ketiga, mendorong konsolidasi kerakyatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses konsolidasi demokrasi ini kemudian mahasiswa hendaknya dapat menempatkan diri sebagai pilar terhadap seluruh alat kekuasaan negara baik lembaga tinggi maupun lembaga tertinggi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka yang seharusnya dilakukan tetap konsisten sebagai penyeru moral dan penjaga utama demokrasi serta mengeliminasi polarisasi gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-2198687536478950155?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/2198687536478950155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/gerakan-moral-mahasiswa_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/2198687536478950155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/2198687536478950155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/gerakan-moral-mahasiswa_13.html' title='Gerakan Moral Mahasiswa'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-2308003196989580572</id><published>2008-11-13T07:40:00.001-08:00</published><updated>2008-11-13T07:41:21.979-08:00</updated><title type='text'>Agama Menghadapi Perubahan Nilai</title><content type='html'>Era informasi dan globalisasi sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah berdampak hampir ke semua aspek kehidupan masyarakat. Susanto (1998:109) menyebutkan, perubahan masyarakat akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut membawa dampak yang besar pada budaya, nilai, dan agama. Nilai-nilai yang sementara ini dipegang kuat oleh masyarakat mulai bergeser dan ditinggalkan. Sementara nilai-nilai yang menggantikannya tidak selalu sejalan dengan landasan kepercayaan atau keyakinan masyarakat, sehingga penyimpangan nilai kian subur dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi seperti ini, remaja dan mahasiswa yang sedang berada dalam kondisi psikologis yang labil menjadi korban pertama sebagaimana terjadi dalam berbagai kasus hedonisme, konsumerisme, hingga peningkatan kenakalan remaja dan narkotika. Hal ini semakin membuktikan bahwa nilai-nilai hidup tengah bergeser sehingga membingungkan para remaja, menjauhkan mereka dari sikap manusia yang berkepribadian (Poespoprodjo,1988:45).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Laporan hasil polling Indonesia Foundation (Pikiran Rakyat,29/7 2005) menyebutkan, sedikitnya 38.288 orang remaja di Kabupaten Bandung diduga pernah melakukan seks pranikah. Jika jumlah remaja di Kabupaten Bandung mencapai 765.762 orang, mereka yang telah melakukan pelanggaran seksual sebesar 50,56%. Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Dr. Siswanto Agus Wilopo, S.U., M.Sc., Sc.D. sebagaimana dilaporkan Pikiran Rakyat (Bandung, 6 April 2006) mengatakan, aborsi di Indonesia terjadi 2-2,6 juta kasus per tahun dan dilakukan oleh penduduk usia 15-24 tahun. Selanjutnya ia menyarankan bahwa upaya preventif yang paling mendasar untuk mencegah aborsi oleh remaja dapat dilakukan melalui pengajaran norma-norma, budi pekerti, agama, dan moralitas yang bertanggung jawab dalam perilaku seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan tersebut menunjukkan, bahwa remaja kita, khususnya para pelajar dan mahasiswa sedang mengalami proses kegalauan nilai yang parah di mana pendidikan sebagai pembinaan nilai dan moral dituntut untuk dapat menanggulangi dan mengantisipasinya sehingga masa depan bangsa dapat diselamatkan. Berbagai fenomena pelanggaran moral di kalangan pelajar dan mahasiswa membuat khawatir sebagian besar masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Pendidikan moral yang selama ini menjadi garapan pendidikan dalam keluarga mulai dirasakan hampa makna, mengingat orang tua tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Sementara sekolah dan perguruan tinggi, padat dengan pencapaian tujuan kurikulum yang menonjolkan aspek kognitif. Output pendidikan lebih banyak menghasilkan pengetahuan, tetapi tidak mampu menghadapi tantangan hidup dan kehidupan (survive). Standar moral dan spiritual anak nyaris tanpa sentuhan, sehingga nilai dan norma yang tertanam pada diri anak hanya sesuatu yang absurd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya pendidikan masyarakat, sistem pendidikan yang tidak mapan, struktur ekonomi yang keropos, serta jati diri bangsa yang belum terinternalisasikan, menjadikan bangsa rentan terhadap nilai-nilai baru yang datang dari luar. Nilai-nilai Barat yang sebagian berseberangan dengan nilai-nilai ketimuran dengan mudah diadopsi, terutama oleh generasi muda. Nilai yang mudah ditiru pada umumnya adalah nilai-nilai yang berisi kesenangan, permainan, dan hedonisme yang sering kali membawa dampak buruk. Sebaliknya, nilai-nilai positif dari Barat seperti kecerdasan dan kemajuan iptek tidak dicerap dengan baik. Menghadapi persoalan tersebut, di kalangan ahli pendidikan sepakat untuk membina dan mengembangkan pendidikan nilai, moral, dan norma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai adalah patokan normatif yang memengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif (Kupperman, 1983). Nilai dilihat dalam posisinya adalah subjektif, yakni setiap orang sesuai dengan kemampuannya dalam menilai sesuatu fakta cenderung melahirkan nilai dan tindakan yang berbeda. Dalam lingkup yang lebih luas, nilai dapat merujuk kepada sekumpulan kebaikan yang disepakati bersama. Ketika kebaikan itu menjadi aturan atau menjadi kaidah yang dipakai sebagai tolok ukur dalam menilai sesuatu, maka itulah yang disebut norma. Jadi nilai adalah harga yang dituju dari sesuatu perilaku yang sesuai dengan norma yang disepakati. Sedangkan moral adalah kebiasaan atau cara hidup yang terikat pada pertanggungjawaban seseorang terhadap orang lain sehingga kebebasan dan tanggung jawab menjadi syarat mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai, moral, dan norma merujuk kepada kesepakatan dari suatu masyarakat. Karena itu, nilai, moral, dan norma akan berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat (relatif). Agama dipandang sebagai sumber nilai karena agama berbicara baik dan buruk, benar, dan salah. Demikian pula, agama Islam memuat ajaran normatif yang berbicara tentang kebaikan yang seyogianya dilakukan manusia dan keburukan yang harus dihindarkannya. Islam memandang manusia sebagai subjek yang paling penting di muka bumi sebagaimana diungkapkan Alquran (Q.S. 45:13) bahwa Allah menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi untuk manusia. Sedangkan ketinggian kedudukan manusia terletak pada ketakwaannya, yakni aktivitas yang konsisten kepada nilai-nilai Ilahiah yang diimplementasikan dalam kehidupan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari asal datangnya nilai, dalam perspektif Islam terdapat dua sumber nilai, yakni Tuhan dan manusia. Nilai yang datang dari Tuhan adalah ajaran-ajaran tentang kebaikan yang terdapat dalam kitab suci. Nilai yang merupakan firman Tuhan bersifat mutlak, tetapi implementasinya dalam bentuk perilaku merupakan penafsiran terhadap firman tersebut bersifat relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelusuri makna nilai dalam perspektif Islam dapat dikemukakan konsep-konsep tentang kebaikan yang ditemukan dalam Alquran. Beberapa istilah dalam Alquran yang berkaitan dengan kebaikan, yaitu alhaq dan al-ma'ruf serta lawan kebaikan yang diungkapkan dalam istilah albathil, dan almunkar. Haq atau alhaq menurut pengertian bahasa adalah truth; reality; rightness, correctness; certainty, certitude dan real, true; authentic, genuine; right, correct, just, fair; sound, valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhaq diulang dalam Alquran sebanyak 109 kali. Alhaq mengandung arti kebenaran yang datang dari Allah, sesuatu yang pasti seperti datangnya hari akhir, dan lawan dari kebatilan. Alhaq dalam Alquran dikaitkan dengan Alquran sebagai bentuk sumber dan Muhammad sebagai pembawa yang menyampaikannya kepada manusia. Haq adalah kebenaran yang bersifat mutlak dan datang dari Tuhan melalui wahyu. Manusia diminta untuk menerima dengan tidak ragu-ragu mengenai kebenaran nilai tersebut (Q.S. 2:147). Haq bersifat normatif, global, dan abstrak sehingga memerlukan penjabaran sehingga dapat dilaksanakan secara operasional oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan budaya dan pola berpikir masyarakat yang materialistis dan sekularis, maka nilai yang bersumberkan agama belum diupayakan secara optimal. Agama dipandang sebagai salah satu aspek kehidupan yang hanya berkaitan dengan aspek pribadi dan dalam bentuk ritual, karena itu nilai agama hanya menjadi salah satu bagian dari sistem nilai budaya; tidak mendasari nilai budaya secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan ajaran agama dipandang cukup dengan melaksanakan ritual agama, sementara aspek ekonomi, sosial, dan budaya lainnya terlepas dari nilai-nilai agama penganutnya atau dengan kata lain pelaksanaan ritual agama (ibadah) oleh seseorang terlepas dari perilaku sosialnya. Padahal, ibadah itu sendiri memiliki nilai sosial yang harus melekat pada orang yang melaksanakannya, misalnya orang yang salat ditandai dengan perilaku menjauhkan dosa dan kemunkaran, puasa mendorong orang untuk sabar, tidak emosional, tekun, dan tahan uji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktualisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sekarang ini menjadi sangat penting terutama dalam memberikan isi dan makna kepada nilai, moral, dan norma masyarakat. Apalagi pada masyarakat Indonesia yang sedang dalam masa pancaroba ini. Aktualisasi nilai dilakukan dengan mengartikulasikan nilai-nilai ibadah yang bersifat ritual menjadi aktivitas dan perilaku moral masyarakat sebagai bentuk dari kesalehan sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-2308003196989580572?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/2308003196989580572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/era-informasi-dan-globalisasi-sebagai_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/2308003196989580572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/2308003196989580572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/era-informasi-dan-globalisasi-sebagai_13.html' title='Agama Menghadapi Perubahan Nilai'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-312854065057973173</id><published>2008-11-13T07:37:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T07:39:24.888-08:00</updated><title type='text'>Introduce IPMawati</title><content type='html'>Siapa sich Ipmawati itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ipmawati berasal dari kata IPM dan Wati. IPM adalah organisasi otonom persyarikatan Muhammadiyah yang bergerak di kalangan pelajar baik putra maupun putrid. Sedang Wati artinya wanita atau putri. Jadi yang disebut dengan ipmawati adalah setiap anggota IPM putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Departemen Ipmawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal didirikannya IPM, departemen Ipmawati belum dibentuk. Struktur organisasinya belum seperti sekarang ini dimana terdapat empat departemen yaitu; Departmen dakwah, Departemen Ipmawati, Departenmen PIP serta Pengembangan Keterampilan. (Hasil Muktamar IPM ke-8 di Yogyakarta, 25 Januari 1990).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada pengembangan awal tersebut Ipmawati sudah mulai berperan seperti dalam kepengurusan IPM, misalanya : “sebagai bendahara atau sekretaris dan juga Ipmawati berusaha mempopulerkan IPM”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat maka peran dari perempuan semakin dibutuhkan. Untuk itu dirasakan perlu adanya suatu wadah yang khusus membina para pelajar putrid. Maka pada Muktamar IPM ke-V di Jakarta terjadilah perubahan struktur kepemimpinan. Khususnya posisi Ipmawati dalam kaitannya dengan organisasi IPM dimana saat itu terpilih ketua III yang membawahi departemen Ipmawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu Ipmawati mempunyai kesempatan yang lebih luas bersama-sama dengan Ipmawan untuk duduk dalam setiap jenjang kepemimpinan baik dalam jabatannya sebagai staff harian maupun dalam departemen Ipmawati akan selalu ikut serta menentukan langkah-langkah IPM secara keseluruhan dalam rangka merealisirkan tujuan IPM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status dan kedudukan Ipmawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status Ipmawati dalam IPM tidak hanya sebagai (peripheral) atau pelengkap saja, tetapi Ipmawati pun mempunyai andil yang besar dalam usaha untuk mencapai tujuan. Ipmawati mempunyai kedudukan yang sama dan setara sebagai mitra sejajar bagi Ipmawan baik dalam struktur kepemimpinan maupun dalam menjalankan tugas-tugas organsisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi dan peran Ipmawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Ipmawati bagi pelajar putri mempunyai arti yang penting dalam perjuangan IPM serta Muhammadiyah. Karena Ipmawati berfungsi sebagai salah satu sarana untuk mencapai cita-cita. Peran Ipmawati dalam IPM merupakan partner dalam menjalankan tugas-tugas organisasi dimana pihak yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi, mengisi dan membantu sesuai dengan kodrat dan kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ipmawati ikut berperan dalam memajukan organisasi maupun masyarakat pelajar, dalam mengisi dan menjunjung bagi kehidupan para pelajar yang akhirnya sampai pada pencapaian tujuan “Terbentuknya pelajar muslim yang berahlaq mulia, dalam rangka menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama adil makmur yang diridhoi Allah Swt”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berubahnya pandangan dunia terhadap perempuan, yaitu sejarah diberinya kesempatan kepada perempuan untuk ikut serta mengembangkan potensi secara wajar, terbukti sudah membawa perempuan mampu menangani bidang-bidang yang semula dianggap hanya mampu ditangani oleh kaum pria saja. Demikian pula dengan Ipmawati. Demikian pula dengan Ipmawati. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi tidak hanya merupakan tugas dari Ipmawan tetapi Ipmawati juga bisa berperan didalamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban Ipmawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dalam lingkup IPM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengurusi ke-Ipmawatian secara khusus, misalnya; melalui pendidikan khusus ipmawati (diksusti) atau program-program pengkaderan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sebagai wadah mendidik kader-kader perempuan Islam yang militant dan konsekuen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebagai teladan bagi pelajar putri Islam yaitu mencerminkan kepribadiannya sesuai dengan fungsinya sebagai perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dalam lingkup masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ipmawati harus sanggup menggalang pembangunan ummat, melalui dakwah Islam amar makruf nahyi mungkar (QS : 3 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ipmawati sebagai pahlawan-pahlawan pembangunan. Dalam arti membangun ummat dengan penuh keihlasan, tanpa pamrih, tekun menanamkan ajaran-ajaran Islam baik kepada warga Ikatan sendiri maupun untuk masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ipmawati sebagai komponen pelajar harus mampu merintis peningkatan dalam pendidikan, keagamaan, sosial kemasyarakatan, disini ikatan dapat dijadikan wadah untuk menempa warganya yang mampu menelorkan pelajar berkepribadian muslim yang dapat diharapkan menjadi sponsor pembangunan manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ipmawati harus mampu berperan sebagai primadona yang cakap dan cerdas serta mampu mengatasi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dalam ‘Aisyiyah / Muhammadiyah&lt;br /&gt;Sebagai pelopor, pelangsung, penyempurna cita-cita dan amal usaha ‘Aisyiyah / Muhammadiyah serta pada saatnya sanggup menerima estafet perjuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-312854065057973173?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/312854065057973173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/siapa-sich-ipmawati-itu-ipmawati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/312854065057973173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/312854065057973173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/siapa-sich-ipmawati-itu-ipmawati.html' title='Introduce IPMawati'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-7664008490753978011</id><published>2008-11-13T07:35:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T07:36:58.882-08:00</updated><title type='text'>IPM Come Back, Era Baru Gerakan Pelajar Muhammadiyah</title><content type='html'>Era baru gerakan pelajar Muhammadiyah telah dimulai. Tepat tanggal 28 Oktober 2008 bertepatan dengan Peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, Ikatan Remaja Muhammadiyah berubah nama menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah disingkat IPM. Asrama Haji Donohudan, Solo, Jawa Tengah menjadi saksi sejarah kembalinya IPM setelah perubahan nomenklatur ini mengalami perdebatan yang cukup panjang, mulai dari Muktamar IRM di Jakarta hingga Muktamar XV di Medan yang akhirnya melahirkan Tim Eksistensi terkait dengan perubahan nomenklatur ini. Namun, sebelum Tim Eksistensi melakukan tugasnya, rupanya Muhammadiyah melalui Rekomendasi Tanwir Muhammadiyah mengeluarkan Surat Keputusan yang "memaksa" IRM kembali ke IPM.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, perubahan nama ini masih mendapatkan resistensi dari beberapa Pimpinan Wilayah, sebut saja PW. IRM Jawa Timur, karena mereka melihat perlu adanya kesadaran kritis sebagai reason yang jelas atas perubahan nama ini. Namun, sesuai dengan kesepakatan yang diperoleh dari Konpiwil IRM di Makassar akhirnya diputuskan IRM kembali ke IPM dan dideklarasikan di arena Muktamar XVI di Surakarta pada tanggal 23-28 Oktober 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun itu, kita sebagai kader IPM mestilah memikirkan mengenai corak gerakan pelajar baru kita nantinya. Agar gerakan yang kita lakukan mampu menjawab tantangan zaman yang semakin komplek dan rumit dengan berbagai macam persoalan terutama yang menyangkut eksistensi pelajar. Untuk itu mari merapatkan barisan, melakukan rekonstruksi paradigma baru IPM untuk mencapai cita-cita ikatan yakni mewujudkan pelajar muslim yang berakhlak mulia, berilmu dan terampil serta peka terhadap realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat atas perubahan nama IRM ke IPM. Semoga melahikan pelajar muslim yang inteektual dan kritis terhadap realitas. Hidup IPM...!!! Salam IPM Progresif...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-7664008490753978011?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/7664008490753978011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/ipm-come-back-era-baru-gerakam-pelajar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/7664008490753978011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/7664008490753978011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/ipm-come-back-era-baru-gerakam-pelajar.html' title='IPM Come Back, Era Baru Gerakan Pelajar Muhammadiyah'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-723326016411563308.post-7729821149389524545</id><published>2008-11-13T07:33:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T07:34:29.084-08:00</updated><title type='text'>Muslimah Gaul, Why Not..??</title><content type='html'>Bila diibaratkan, wanita yang berjilbab dengan wanita yang tidak berjilbab itu seperti dua buah roti yang bermerek sama namun dengan cover atau bungkus yang berbeda. Duah buah roti sama-sama bermerek "X" misalnya. Roti "X" yang pertama dibiarkan terbuka, dijual dipinggiran jalan, yang setiap orang dapat dengan mudah melihatnya secara langsung, bahkan meraba atau mencicipinya pun mudah. Untuk roti "X" yang pertama ini, lalatpun pasti mudah untuk hinggap. Roti "X" yang kedua dibungkus dan dikemas dengan plastik bersih, rapat, indah, dan rapi. Kemudian tempat penjualannyapun ditempatkan di dalam lemari kaca, yang nggak setiap orang dapat menyentuhnya. Diantara kedua roti tersebut, kalau kita disuruh memilih, tentunya pilih roti "X" yang kedua, karena tertutup dengan rapat dan bersih, tentunya kita pun yakin bahwa roti ini belum pernah dicicipi orang lain sebelumnya. Sedangkan roti "X" yang pertama, meragukan, lalat saja mudah hinggap.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebenarnya salah satu peranan jilbab bagi para wanita muslimah, agar lebih terjaga. Sedangkan tujuan utamanya tentunya tetap saja sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih, seperti kedua roti yang bermerek sama itulah islam memandang dan memperlakukan wanita, antara yang berjilbab dan yang tidak menggunakan jilbab. Meskipun pada dasarnya mereka sama, sesama wanita atau bahkan sesama muslimah. Namun, wanita yang berjilbab adalah wanita yang memiliki kedudukan lebih terhormat dari wanita yang tidak berjilbab. Karena, wanita berjilbab senantiasa menyembunyikan auratnya dari mereka yang tidak berhak untuk melihat atau bahkan menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilbab, pada saat ini keadaannya memang seolah dijadikan sebagai sebuah permasalahan yang biasa-biasa saja. Bahkan, sampai saat ini masih ada saja orang tua yang melarang anaknya untuk mengenakan jilbab, padahal mereka sendiri mengaku sebagai keluarga muslim, lalu kenapa aturan islam secara tegas mereka langgar bahkan mereka haramkan. Allah swt dan Rasulullah saw padahal telah secara tegas menyampaikan masalah kewajiban menggunakan jilbab ini kepada umat manusia, khususnya umat muslim. Tapi tetap saja, samapi saat ini masih banyak wanita-wanita muslim yang membangkang dari perintah menggunakan jilbab ini.&lt;br /&gt;Di sisi lain, ada pula yang katanya mengenakan jilbab, namun yang mereka maksud dengan jilbab adalah sebatas pembungkus kepala saja, tidak lebih. Pembungkus kepala yang ukurannya sempit, dengan pakaian yang juga super sempit. Padahal Allah telah memerintahkan untuk menjulurkan jilbabnya ke dadanya. Tapi nyatanya apa? Para jilbaber seksi menggunakan pakaian yang juga seksi, bukan menjulurkan jilbab ke dadanya, tapi justru menonjolkan bentuk dadanya. Apa sih sebenarnya yang menghalangi mereka untuk mengenakan jilbab yang sesuai dengan syariat islam? Apakah mereka takut kalau lelaki tidak dapat melihat bentuk tubuh mereka? Atau mereka takut kehilangan kesempatan untuk mengatakan "Ini loh dada gw?" (Maaf). Kalau tidak demikian, lalu adakah alasan lain yang tepat untuk membenarkan pelanggaran mereka atas perintah berjilbab ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian orang yang melontarkan jawabannya, "Alah! Yang berjilbab aja banyak yang nyolong, banyak yang nyopet, banyak yang nipu, banyak yang jadi rentenir...Yang penting mah hatinya!". Apakah perintah berjilbab itu datangnya dari mereka, sehingga kita berkiblat pada mereka? Dan kalau memang demikian pendapat mereka, lalu apakah sedikit perempuan yang tidak berjilbab yang jadi PSK, germo, rentenir, copet, dan lain-lain? Mereka lebih banyak. Kenapa kita selalu mencari-cari keburukan wanita yang berjilbab namun imamnnya belum mantap? Kenapa kita menjadikan wanita-wanita yang menjadikan jilbab hanya untuk tameng kejahatan mereka sebagai pedoman hidup kita? Justru, dengan adanya pihak-pihak yang berusaha untuk menjatuhkan citra jilbab itulah, maka kita harus bangkit dan mengharumkan nama jilabab, bukan malah ikut menginjak-injaknya. Kalau kita mengatakan "Yang penting mah hatinya!", lalu apakah bisa dikatakan seorang pemabuk, pembunuh, pemerkosa itu baik? Yang penting kan hatinya, bukan perbuatannya! Kalau sudah demikian pendapatnya ya rusaklah semuanya, bisa-bisa, pembunuh juga akan dibilang baik, karena yang penting kan hatinya. Satu hal Ynag penting adalah bahwa sikap, perbuatan, perilaku, adalah cerminan dari hati seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula alasan yang mengatakan bahwa menggunakan jilbab itu ribet, repot, tidak bisa bergerak dengan leluasa. Emang jilbab menghalangi apanya? Anda toh tidak disuruh berperang seperti perempuan-perempuan berjilbab pada masa dahulu yang juga turun ke medan perang! Anda hanya memasak,mengurus anak, atau kuliah, atau bekerja, lalau dimana letak merepotkannya? Coba kita buka mata kita lebar-lebar, di luar sana banyak sekali wanita-wanita muslimah berjilbab besar dan syari yang menjadi ibu rumah tangga, bekerja, sekaligus kuliah. Banyak jilbaber besar yang aktif diorganisai-organisasi yang membutuhkan banyak sekali energy dan gerak fisik. Mereka bisa dan tidak merasa direpotkan, justru mereka sangat menjaganya.&lt;br /&gt;Kalau kita merasa bahwa dengan berjilbab akan membuat kita sulit untuk mendapatkan pekerjaan, maka ingatlah bahwa Allah Maha Kaya. Allah Yang Mengatur rizki. Allah akan memberikan yang terbaik untuk hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, marilah kita singkirkan segala bentuk kemalasan dan hentikan segala bentuk pencarian alasan untuk membenarkan penolakan anda terhadap jilbab. Ingatlah, bahwa sesungguhnya hanya Allah-lah yang mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya. Maka, marilah kaum muslimah untuk kembali ke jalan Allah dengan mulai menggunkan jilbab yang syari, yang sesuai dengan kaidah-kaidah islam sebagaimana tertera dalam beberapa keterangan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan pehiasaannya kecuali yang biasa nampak dari pandangan. Dan hendaklah mereka menutupkan kainkerudung ke dadanya, dan jangan- lah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau keapda ayah mereka, atau putra-putra mereka, atau saudara- saudara mereka, atau putra-putra suami mereka, atau wanita- wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan- pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap kaum wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat kaum wanita. dan janganlah mereka memukul kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung". (Qs. An Nur : 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istri engkau, anak-anak engkau yang perempuan dan perempuan-perempuan orang-orang yang beriman, supaya mereka menutup tubuhnya dengan baju dalamnya (ketika mereka berjalan ke luar). (Dengan) demikian itu mereka lebih patut dikenal dan (karena itu) mereka tidak diganggu. Dan Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. QS. Al - Ahzab (33): 59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Khalid bin Duraik, dari Aisyah ra Asma' binti Abu Bakar ra, pernah berkunjung kepada Rasulullah saw memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah saw berpaling dari padanya seraya bersabda: "Wahai Asma', sesungguhnya wanita apabila telah baligh, tidak benar terlihat dari padanya kecuali ini... dan ini...". Beliau memberi isyarat kepada wajah dan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah ra, bahwa Rasulullah saw berkata : “Rasulullah SAW memerintahkan kami agar keluar (menuju lapangan) pada saat hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha, baik ia budak wanita, wanita yang haidh, maupun yang perawan?آ Adapun bagi orang-orang yang haidh maka diperintahkan menjauh dari tempat shalat, namun tetap boleh menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin?آ Lalu aku berkata: Wahai Rasulullah SAW salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?آ Maka Rasulullah saw menjawab: ‘Hendaklah saudaranya itu meminjamkan jilbabnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada akhir ummatku nanti akan muncul kaum laki-laki yang menaiki pelana seperti layaknya kaum laki-laki, mereka turun kemasjid-masjid, wanita-wanita mereka berpakaian tetapi laksana telanjang, diatas kepala mereka (ada sesuatu) seperti punuk unta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka, karena sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita yang terlaknat” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga Allah merahmati wanita Muhajirin yang pertama yang tatkala Allah swt menurunkan ayat:”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedada mereka..”mereka lantas merobek kain tak berjahit (muruth) yang mereka kenakan itu, lalu mereka berkerudung dengannya (dalam riwayat lain disebutkan: Lalu merekapun merobek sarung-sarung mereka dari pinggir kemudian mereka berkerudung (berjilbab) dengannya” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)&lt;br /&gt;"Hendaklah mereka itu mengeluarkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (Qs. Al Ahzab : 59)&lt;br /&gt;"Nabi saw melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian wanita, dan seorang wanita yang mengenakan pakaian laki-laki". (HR. Abu Dawud dan An Nasai).&lt;br /&gt;"Siapa yang meniru suatu kaum, maka ia berarti dari golongan mereka". (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/723326016411563308-7729821149389524545?l=awankpoenya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankpoenya.blogspot.com/feeds/7729821149389524545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/muslimah-gaul-why-not_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/7729821149389524545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/723326016411563308/posts/default/7729821149389524545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankpoenya.blogspot.com/2008/11/muslimah-gaul-why-not_13.html' title='Muslimah Gaul, Why Not..??'/><author><name>Awang Darmawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02864061880718065420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_KxcP23qCmOA/TMQwpaNG6cI/AAAAAAAAAE4/C__hmjoJabM/S220/awank.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
